• Kamis, 11 Agustus 2022

Invansi Rusia ke Ukrania Dinilai Berpotensi Ganggu Stabilitas Bisnis BUMN Indonesia

- Rabu, 2 Maret 2022 | 18:42 WIB
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus memaparkan dampak invansi Rusia ke Ukrania bagi Indonesia pada diskusi virtual INDEF bertajuk Perang Harga Minyak dan Dampaknya Bagi Ekonomi dan Bisnis di Indonesia yang digelar virtual, Rabu (2/3/2022). (Nenden Pupu)
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus memaparkan dampak invansi Rusia ke Ukrania bagi Indonesia pada diskusi virtual INDEF bertajuk Perang Harga Minyak dan Dampaknya Bagi Ekonomi dan Bisnis di Indonesia yang digelar virtual, Rabu (2/3/2022). (Nenden Pupu)

HAJIUMRAHNEWS.COM - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus menilai, invasi yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina berpotensi menyebabkan gangguan terhadap beberapa bisnis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia.

"Serangan yang dilakukan oleh Rusia berpotensi mengganggu beberapa sektor bisnis perusahaan pelat merah di Indonesia Khususnya BUMN yang sektor energi dan infrastruktur dampaknya lebih ke tidak langsungnya," kata Heri dalam diskusi virtual INDEF bertajuk Perang Harga Minyak dan Dampaknya Bagi Ekonomi dan Bisnis di Indonesia yang digelar virtual, Rabu (2/3/2022).

Dampak tersebut menurutnya, tidaklah terjadi secara langsung ke BUMN Indonesia. "Porsi ekspor impor kita ke Rusia dan Ukraina yang memang kecil, jadi direct impact-nya relatif kecil dibanding indirect impact-nya," beber Heri.

Lebih lanjut dia menjelaskan, dampak negatif yang disebabkan secara tidak langsung dari perang tersebut terlihat dari posisi Rusia sebagai penghasil minyak dan gas yang sebagian besar diekspor ke China.

Setelah itu, kedua bahan mentah tersebut diolah untuk dijadikan input produksi bagi pabrik di negeri tirai bambu. Melihat besarnya porsi ekspor Indoensia ke China, maka kata dia, perang tersebut membuat rekan dagang Indonesia terganggu.

"Rusia merupakan negara penghasil minyak dan gas. Di mana Rusia mengekspor minyak dan gas ke China dan di China migas dijadikan input produksi bagi pabrik di China," ujarnya.

Namun, lanjut dia, karena terganggu, pabrik di China juga nanti sedikit banyak mengalami gangguan. "Sehingga ekspor kita atau perdagangan kita ke China baik ekspor maupun impor itu mengalami gangguan," tukasnya.

Maka itu menurut Heri, Indonesia sudah seharusnya mencari alternatif untuk mencari lokasi ekspor maupun impor. Pasalnya, meskipun terlibat secara tidak langsung, Indonesia masih mengandalkan beberapa bahan mentah dari Rusia.

"Kita perlu cari alternatif untuk melakukan perdagangan dengan negara yang relatif tidak rawan konflik, kan biasanya negara itu mencari mitra ekonomi yang risiko konfliknya sedikit," ujar Heri.

Halaman:

Editor: Nenden Pupu

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X