• Selasa, 28 Juni 2022

Ini Syarat Utama Jika Indonesia Ingin Jadi Pusat Industri Halal Dunia Tahun 2024

- Jumat, 17 Juni 2022 | 13:28 WIB
Prof. Dr. Irwandi Jaswir saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional bertajuk Penguatan Ekosistem Jaminan Produk Halal Indonesia dalam Menghadapi Persaingan Global yang diselenggarakan FEB UIN Jakarta. (hajiumrahnews.com)
Prof. Dr. Irwandi Jaswir saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional bertajuk Penguatan Ekosistem Jaminan Produk Halal Indonesia dalam Menghadapi Persaingan Global yang diselenggarakan FEB UIN Jakarta. (hajiumrahnews.com)

HAJIUMRAHNEWS.COM – Industri halal saat ini tengah digandrungi banyak negara di berbagai belahan dunia, tidak hanya negara muslim, tapi juga negara-negara non-muslim.

Mengapa demikian, karena industri halal memiliki nilai pasar yang sangat fantastis, mencapai 3,1 triliun dollar AS per tahun.

Besarnya nilai pasar tersebut tentu saja membuat banyak negara tergiur untuk menjadi pemain besar dalam industri halal, termasuk juga Indonesia, yang selama ini masih lebih banyak menjadi konsumen.

Indonesia sendiri telah berambisi menjadi pusat industri halal dunia pada tahun 2024. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar, tentu ambisi tersebut sangat mungkin diwujudkan, meskipun di saat bersamaan, tantangan yang dihadapinya pun tidaklah ringan

Pakar Halal Sains Internasional, Prof. Dr. Iswandi Jaswir mengatakan, untuk menjadi pusat industri halal dunia, Indonesia harus memiliki dan memperkuat seluruh ekosistem halal.

“Mulai dari bahan baku produk, proses produksi, regulasi dan implementasi, keberpihakan baik dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, juga masyarakat. Dan yang tidak kalah penting adalah penguatan bidang Research and Development (R&D) sehingga bisa melahirkan inovasi,” terang Prof. Irwandi kepada Hajiumrahnews.com, Kamis (16/6/2022).

Prof. Irwandi menjelaskan, industri apapun yang tidak memiliki basis R&D yang kuat, pasti akan mudah hancur. Hal itu terjadi pada Nokia misalnya. Sempat menjadi penguasa di masa awal kemunculannya, namun kini Nokia hancur dan tidak lagi bisa bersaing dengan perusahaan yang memiliki basis R&D lebih kuat.

“Kalaupun kita punya produk bagus, tetap saja orang lain bisa meniru itu, dan mereka sangat mungkin menjadi lebih advance. Untuk itulah R&D perlu di perkuat agar inovasi selalu muncul. Dan saya melihat R&D halal di Indonesia masih menjadi salah satu isu yang harus ditingkatkan lagi,” ungkapnya.

Untuk memperkuat R&D halal, menurut Prof. Iswandi perlu lebih banyak akademisi yang masuk ke dalam halal sains.

Halaman:

Editor: Ammar Faizal Haidar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X