• Kamis, 29 September 2022

Kisah Inspiratif Dokter Ira Susanti, Tenaga Kesehatan Haji Kloter Sapu Jagat yang Diterbangkan Tanpa SK

- Jumat, 29 Juli 2022 | 01:07 WIB
dr. Ira Susanti (kanan) saat mengantar jamaah JKG 29 yang akan tanazul. (hajiumrahnews.com)
dr. Ira Susanti (kanan) saat mengantar jamaah JKG 29 yang akan tanazul. (hajiumrahnews.com)

HAJIUMRAHNEWS.COM - Penyelenggaraan ibadah haji tahun 1443 H/2022 M mungkin akan selalu dikenang sebagai salah satu pengalaman hidup paling berkesan bagi dr. Ira Susanti Heriyoso, tenaga kesehatan haji Indonesia asal DKI Jakarta.

Bagaimana tidak, perjalanannya untuk dapat satu tiket menjadi tenaga kesehatan haji di Tanah Suci diwarnai banyak drama dan ujian.

dr. Ira merupakan salah satu tenaga kesehatan haji yang sebelumnya sudah dinyatakan lulus pada tahun 2020 silam. Namun, akibat pandemi Covid-19, penyelenggaraan haji tahun itu ditiadakan.

Lalu tahun ini, mengingat jumlah kuota jemaah haji berkurang, maka jumlah tenaga kesehatan pun ikut dipangkas. Walhasil, dr. Ira harus kembali ikut tes menjadi tenaga kesehatan haji Arab Saudi.

Sayangnya, dr. Ira gagal lolos pada seleksi tersebut. Ia mengaku sempat bingung dengan hal itu, karena jika merujuk pada hasil tes, nilai yang diraihnya relatif baik.

"Jujur saya sedih sekali, dan agak kecewa. Tapi saya coba ikhlas dan menerima hasilnya. Alhamdulillahnya, pada momen itu, saya juga dapat dukungan dari suami dan keluarga, bahwa Allah SWT akan memanggil hamba-Nya yang dikehendaki. Jadi kalau memang saya ngga berangkat, mungkin memang belum saatnya," kata dr. Ira.

Meski sudah coba mengikhlaskan, namun dr. Ira mengatakan, keinginannya untuk berangkat ke Tanah Suci sebagai petugas haji tahun ini tetap saja selalu saja terngiang.

Mungkin begitulah cara Allah SWT menguji kesabaran dr. Ira, agar ia memiliki kepantasasan untuk memenuhi panggilan-Nya. Dan ternyata benar, sepekan jelang keberangkatan jemaah haji kelompok terbang (kloter) 1, dr. Ira mendapat tawaran untuk mendampingi jemaah haji kloter terakhir, dari embarkasi Jakarta, Lombok, Solo, atau yang disebut dengan kloter sapu jagat.

"Waduh perasaan saya waktu itu seperti ketiban durian montong runtuh. Saya bingung, antara saya harus senang karena akhirnya saya berangkat, namun di saat yang sama, saya belum punya persiapan dan saya tidak ikut pelatihan integrasi," ucapnya.

Halaman:

Editor: Ammar Faizal Haidar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X