Menag Yaqut Beberkan Alasan Produk Indonesia Sulit Banjiri Pasar Arab Saudi

- Jumat, 20 Januari 2023 | 20:43 WIB
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas (Tangkapan Layar YouTube Komisi VIII)
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas (Tangkapan Layar YouTube Komisi VIII)

HAJIUMRAHNEWS.COM - Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengungkap kendala terkait ekspor produk haji Indonesia yang hingga kini masih kesulitan tembus di Arab Saudi.

Menag Yaqut menyebut bahwa antara pemerintah Indonesia dan Kerajaan Saudi Arabia hingga kini belum menjalin kerjasama dalam bidang perdagangan.

"Ternyata Indonesia dan Arab Saudi belum memiliki perjanjian perdagangan sehingga produk dari Indonesia yang masuk ke Saudi ini kena pajak yang cukup besar," ungkap Menag Yaqut dalam Rapat Kerja dengan Komisi VIII, Kamis (19/1/2023).

Gus Men sapaan akrabnya menyebut, kendala itulah yang menyebabkan Indonesia hingga kini tidak bisa bersaing dengan negara lain perihal produk-produk yang menyediakan kebutuhan haji di Arab Saudi.

"Bahan pakan banyak berasal dari negara di luar Indonesia ikan patin banyak dari Thailand, Filipina, Vietnam. Beras dari Thailand dan seterusnya sementara kalau kita lihat negara kita ini kaya dengan produk-produk itu termasuk rempah-rempah yang dibutuhkan,"tutur Menag.

Walau begitu, Menag mengapresiasi kinerja Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan dalam melihat peluang bisnis di musim haji kali ini. Dimana Mendag dan tim akan berkunjung ke Arab Saudi pada 23 Januari mendatang untuk melakukan perjanjian dagang.

"Alhamdulillah menteri perdagangan bergerak dengan cepat dan Insya Allah tanggal 23 nanti ini akan ada MoU perjanjian dagang antara Indonesia dan kerajaan Saudi Arabi yang salah satunya bisa meringankan pajaknya," ungkapnya.

Gus Men berharap dengan kerjasama antara Mendag dan pihak Arab Saudi, nantinya disepakati bahwa pajak untuk produk yang masuk ke Arab Saudi dari Indonesia bisa berkurang bahkan tanpa pajak.

"Kalau ambisi kita sih pajaknya nol, sehingga harga kita lebih kompetitif disana. Target pak Menteri Perdagangan yang disampaikan ke saya menyepakati paling tidak 30-40% lah dari komoditas yang selama ini diambil dari negara lain bisa diambil oleh Indonesia" ungkapnya.

Editor: Nenden Pupu

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X