• Selasa, 29 November 2022

Menyelami Makna Tahallul, Ritual Terakhir dalam Rukun Haji

- Kamis, 24 Maret 2022 | 16:07 WIB
Mencukur rambut atau tahallul. (Istimewa)
Mencukur rambut atau tahallul. (Istimewa)

HAJIUMRAHNEWS.COM - Secara etimologis, tahallul berarti pembebasan, pelepasan, pembolehan, penghalalan, termasuk pengampunan.

Namun secara terminologis, tahallul digunakan untuk menggambarkan aktivitas menggunting atau mencukur sebagian rambut sekurang-kurangnya tiga helai saat melaksanakan haji dan umrah.

Secara syariat, tahallul berarti membolehkan atau menghalalkan segala sesuatu yang sebelumnya dilarang selama berihram. Dan bercukur meski terkesan remeh, tapi jika ditinggalkan akan membatalkan ibadah.

Dilihat dari filosofinya, kewajiban bercukur adalah sebuah penghalalan akan sesuatu yang tadinya haram. Keharaman sesuatu itu terletak di dalam pikiran yang ada di kepala kita. Rambut adalah salah satu tanda realita pertumbuhan makhluk, juga sebagai petunjuk bahwa asal dari sesuatu yang ada dalam hukum pertumbuhan adalah haram.

Sebagai contoh, Nabi Adam a.s ketika berada di dalam surga dilarang untuk mendekati pohon. Kata pohon menunjukkan adanya sebuah hukum pertumbuhan. Konsekuensi logis dari hukum pertumbuhan adalah munculnya hukum sebab akibat (kausalitas).

Pengharaman Allah SWT kepada Nabiyullah Adam a.s untuk mendekati pohon (pertumbuhan) itu merupakan pesan bahwa sakralisme ketuhanan tidak ada pada mekanisme itu. Dengan kata lain, Dia (Allah SWT) tidak membutuhkan kausalitas untuk menegaskan kekuasaan-Nya.

Nah, pesan yang disampaikan dalam pemotongan rambut itu adalah sebuah kesadaran akan adanya Tuhan yang menjadi asal muasal manusia. Karena itu, potonglah sesuatu yang tumbuh (berupa rambut) sebagai simbolisasi dari ketuntasan ibadah haji yakni kesadaran tertinggi manusia tentang Tuhan.

Sejatinya, hal ini mengajarkan bahwa manusia tetaplah manusia, tidak punya daya dan kekuatan. Bahkan keberadaannya pun tidak punya. Justru Allah SWT adalah sumber segala sebab.

Diharapkan, keadaan seperti ini akan membawa manusia untuk bersikap khusyuk, tawadhu’ (rendah hati), dan khudhu’ (ketundukan).

Halaman:

Editor: Ammar Faizal Haidar

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X