
Hajiumrahnews.com — Kondisi darurat masih menyelimuti Aceh pada hari ke-11 pascabanjir dan longsor besar yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Laporan langsung dari Kecamatan Karang Baru dan Kuala Simpang, Aceh Tamiang, menunjukkan kebutuhan mendesak belum terpenuhi secara optimal. Tim Lembaga Kemanusiaan Tanggap Bencana Ikatan Dokter Indonesia (LKTB IDI) menyebut logistik, pelayanan kesehatan, serta akses air bersih masih sangat terbatas.
Relawan LKTB IDI, Fahmi, yang berada di lokasi sejak pagi, menggambarkan situasi yang masih sangat kritis. “Masyarakat masih terlunta-lunta. Air bersih kurang, logistik kurang, shelter dan alas tidur tidak memadai, listrik masih mati,” ujarnya dalam laporan langsung kepada Hajiumrahnews.com. Ia menambahkan bahwa koordinasi birokrasi yang lambat dan medan yang sulit membuat tanggap darurat berjalan tertatih.
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling cepat terdampak. Menurut Fahmi, gejala infeksi saluran pernapasan mulai banyak ditemukan. “Mereka kekurangan nutrisi dan sudah mulai terkena ISPA,” katanya.
Kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi meliputi air bersih, vitamin, makanan bayi, dan dukungan tenaga kesehatan tambahan. Kondisi fasilitas kesehatan juga memprihatinkan. “RSUD Aceh Tamiang lumpuh total. Masih dalam proses pembersihan. Kita sangat kekurangan obat, peralatan medis, dan tenaga kesehatan,” jelas Fahmi.
Dalam perjalanan dari Banda Aceh, tim relawan mengalami momen yang meninggalkan kesan mendalam. “Kami singgah makan di Bireuen, dan saya melihat seorang pengungsi mengorek-ngorek tong sampah mencari sisa makanan,” tutur Fahmi. “Pemandangan itu sulit saya lupakan.”

Di tengah keterbatasan, kebutuhan sederhana seperti paket kebersihan (dignity kit) sangat berarti bagi penyintas. Paket tersebut berisi sabun mandi, sampo, sikat gigi, pasta gigi, sabun cuci, hingga pembalut wanita. Sementara spirituality kit seperti sajadah, mukena, sarung, tasbih, dan Al-Qur’an juga menjadi penguat mental para penyintas.
Banyak warga kehilangan rumah dan anggota keluarga. Trauma semakin berat karena penanganan darurat berjalan lamban. “Mereka sangat terpukul, dan itu diperparah oleh rasa bahwa negara gagal hadir memberikan perlindungan,” ujar Fahmi. Ia meminta para menteri, dirjen, dan kepala daerah bekerja lebih keras demi keselamatan warga.
Sebagai bentuk kepedulian, Gaido Foundation melalui Yayasan Anak Sholeh Internasional, bekerja sama dengan LKTB IDI, Gaido Travel, Gaido Bank Syariah (GBS), dan media Hajiumrahnews.com, bergerak menyalurkan bantuan tanggap darurat bagi korban banjir dan longsor di Sumatra.
Kolaborasi ini mengajak:
untuk bahu-membahu meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak melalui open donasi resmi.
Yayasan Anak Sholeh Internasional
Penyelenggara mengimbau bahwa bukti transfer mohon dikirimkan ke nomor narahubung untuk menjaga transparansi dan integritas bersama antara Gaido Foundation, LKTB IDI, dan Gaido Travel.
“Mari kita bantu dan doakan agar proses evakuasi berjalan lancar, para korban yang wafat husnul khatimah, yang sakit segera disembuhkan, dan para penyintas diberi kesabaran serta ketabahan,” demikian seruan resmi kolaborasi kemanusiaan ini.