
Hajiumrahnews.com — Penguatan kesiapsiagaan petugas haji menjadi fokus utama pada hari ketiga Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M yang digelar Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (12/1/2026). Para peserta mengikuti simulasi layanan terpadu, mulai dari penanganan kesehatan jemaah sakit hingga perlindungan dan layanan pendukung lainnya.
Berbeda dari sesi kelas, pelatihan hari ketiga dirancang berbasis praktik lapangan. Peserta mensimulasikan situasi nyata yang kerap dihadapi petugas haji di Arab Saudi, termasuk respons awal ketika jemaah mengalami gangguan kesehatan di area akomodasi maupun ruang publik.
Salah satu kelompok peserta, Kompi Aligator atau Kompi A, menjalani simulasi di bawah pembinaan fasilitator dari unsur TNI Angkatan Laut. Simulasi ini dilaksanakan setelah peserta sebelumnya mendapatkan materi Peraturan Baris Berbaris (PBB) sebagai fondasi kedisiplinan dan kepatuhan terhadap komando.
Dalam simulasi layanan kesehatan, tenaga medis mempraktikkan alur penanganan jemaah sakit sejak laporan awal diterima hingga pemberian pertolongan pertama. Penanganan tidak hanya dilakukan oleh dokter dan perawat, tetapi melibatkan koordinasi lintas tugas dan fungsi (tusi).
Dokter Layanan Kesehatan Haji, Ade Syahputra Damanik, menekankan bahwa simulasi ini dirancang untuk melatih respons kolektif petugas.
“Dalam simulasi digambarkan kondisi ketika jemaah membutuhkan bantuan, tetapi yang pertama menemukan bukan tenaga medis,” ujar Ade.
Menurut dia, situasi tersebut menuntut komunikasi cepat antara petugas non-kesehatan dengan tenaga medis agar penanganan tidak terlambat.
“Komunikasi menjadi kunci. Petugas akomodasi, transportasi, atau perlindungan harus segera melapor dan berkoordinasi dengan dokter,” katanya.
Ade menjelaskan, salah satu materi penting dalam simulasi adalah penentuan prioritas evakuasi. Petugas dilatih untuk menilai keamanan lokasi sebelum memberikan pertolongan lanjutan.
“Pertolongan pertama bisa dilakukan di tempat umum, tetapi jika tidak aman, evakuasi harus menjadi prioritas. Jemaah dipindahkan ke tempat yang lebih aman sebelum penanganan lanjutan,” jelasnya.
Setelah penanganan awal, petugas juga diarahkan untuk segera menghubungi pihak berwenang atau fasilitas kesehatan rujukan apabila kondisi jemaah memerlukan tindakan lebih lanjut.
Sebelumnya, Direktur Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj RI Puji Raharjo menyebutkan bahwa pelatihan PBB diberikan kepada sekitar 1.500 calon petugas haji untuk membangun kedisiplinan dan kesadaran komando.
“Kita tahu tantangannya, mudah mengumpulkan, tetapi sulit membariskan. Karena itu, disiplin menjadi dasar,” ujarnya.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa seluruh rangkaian diklat dirancang berbasis praktik agar petugas terbiasa dengan kondisi riil di Tanah Suci.
“Semua peserta harus praktik. Mereka sudah dibagi kepala daerah kerja dan sektor agar terbiasa berkoordinasi sejak dini,” kata Dahnil.
Melalui simulasi ini, Kemenhaj berharap seluruh petugas haji memiliki pemahaman dasar pertolongan pertama, koordinasi lintas layanan, serta kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat demi memastikan keselamatan dan kenyamanan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.