Mayoritas Guru PAI Belum Lancar Baca Alquran, Kemenag Siapkan Program Nasional

Hajiumrahnews.com — Kementerian Agama (Kemenag) bersama Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) merilis hasil Asesmen Baca Alquran terhadap guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah umum. Hasil survei yang dilakukan di enam provinsi di Pulau Jawa menunjukkan mayoritas guru PAI masih berada pada level pratama atau belum lancar membaca Alquran.

Asesmen tersebut mengungkap bahwa proporsi guru PAI yang mencapai kategori mahir masih relatif kecil. Temuan ini menjadi perhatian serius Kemenag sebagai penanggung jawab peningkatan mutu pendidikan agama di Indonesia.

Menteri Agama RI Prof Nasaruddin Umar menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam menanggapi hasil asesmen tersebut. Ia menyatakan Kemenag telah menyiapkan langkah lanjutan untuk memperbaiki kualitas literasi Alquran secara lebih luas.

“Langkah selanjutnya akan berlanjut di survei yang akan datang dengan sampelnya Indonesia, bukan hanya Pulau Jawa,” ujar Nasaruddin dalam acara Ekspos Hasil Asesmen Baca Al-Qur’an di Sekolah yang digelar di Jakarta, Rabu (17/12/2025) malam.

Menurutnya, asesmen ini bukan semata-mata untuk memetakan persoalan, melainkan menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

“Kemampuan membaca Alquran itu tanggung jawab kita semua. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus terlibat,” tegas Rektor Universitas PTIQ Jakarta tersebut.

Nasaruddin menekankan bahwa membaca Alquran merupakan kewajiban individual umat Islam, sementara upaya memastikan masyarakat mampu membacanya dengan baik menjadi tanggung jawab kolektif.

“Fardhu ain orang itu bisa baca Alquran. Dan fardhu kifayah kita untuk mengimbau supaya orang itu bisa baca Alquran dengan baik,” katanya.

Ia juga mendorong agar model asesmen yang dilakukan PTIQ dapat diikuti oleh lembaga lain, termasuk dengan melibatkan pemerintah daerah agar upaya peningkatan literasi Alquran berjalan lebih merata.

Selain guru PAI di sekolah umum, Kemenag juga memberi perhatian khusus kepada para guru ngaji di pedesaan. Menurut Nasaruddin, pengabdian mereka selama ini belum diimbangi dengan apresiasi yang layak.

“Guru ngaji di tingkat desa dan daerah itu perlu diberikan apresiasi oleh pemerintah. Karena di sana kan tidak ada gajinya, hanya dapat zakat fitrah setahun sekali,” ujarnya.

Ia menilai tidak adil jika para guru ngaji mengajar sepanjang waktu dengan murid yang terus berganti tanpa dukungan kesejahteraan. Oleh karena itu, Kemenag berencana melakukan pendataan guru ngaji dasar di pedesaan sebagai langkah awal pemberian insentif.

“Kementerian Agama juga akan mendata berapa jumlah guru mengaji di tingkat basic di pedesaan agar nanti bisa kita berikan insentif, bekerja sama dengan pemerintah daerah,” kata Imam Besar Masjidil Istiqlal Jakarta ini.

Berdasarkan hasil asesmen PTIQ, DKI Jakarta mencatat hanya 13 persen guru PAI yang berada pada kategori mahir. Dari 4.129 peserta, sebanyak 57 persen masih berada di level pratama dan 30 persen berada pada level menengah.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Prof Amin Suyitno, menilai kondisi tersebut menjadi sinyal perlunya perhatian serius.

“Di angka 57 persen ini bagaimana kemudian mereka bisa memegang mata pelajaran agama. Ini pertanda bahwa anak-anak selepas sekolah memang membutuhkan atensi khusus,” ujarnya.

Di Provinsi Banten, hanya 12 persen guru PAI yang masuk kategori mahir, sementara 60 persen masih berada di level pratama. Jawa Barat mencatat kondisi paling mengkhawatirkan, dengan hanya 9 persen guru mahir dan 68 persen masih di level dasar.

Jawa Timur mencatat capaian terbaik, dengan 17 persen guru berada pada kategori mahir, disusul 30 persen menengah dan 52 persen pratama. DI Yogyakarta dan Jawa Tengah masing-masing mencatat persentase guru mahir sebesar 11 persen dan 15 persen.

Prof Suyitno menegaskan hasil asesmen ini bukan kritik semata terhadap guru di lapangan, tetapi juga menjadi bahan evaluasi bagi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), khususnya Fakultas Tarbiyah.

“Pabrik guru PAI itu adalah fakultas tarbiyah. Input yang masuk harus benar-benar berkualitas, karena input akan sangat menentukan output,” jelasnya.

Hasil asesmen ini akan menjadi dasar pelaksanaan pelatihan baca Alquran bagi guru dan pengawas PAI. Guru yang lulus pelatihan akan mendapatkan sertifikat (syahadah) dan diproyeksikan menjadi ujung tombak program Bebas Buta Huruf Alquran di sekolah umum.

Temuan asesmen ini menunjukkan bahwa penguatan literasi Alquran tidak dapat ditunda. Perbaikan kualitas guru, dukungan kebijakan, serta keterlibatan masyarakat menjadi kunci agar pendidikan agama benar-benar membentuk generasi yang memahami dan mengamalkan nilai Alquran secara utuh.