
Hajiumrahnews.com — Pengabdian masyarakat yang dilakukan sivitas akademika Universitas Aufa Royhan di wilayah terdampak bencana di Tapanuli Selatan tidak berhenti pada penyaluran bantuan darurat. Melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa, kegiatan tersebut dimaknai sebagai ikhtiar bersama untuk membangun kembali ketahanan sosial masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai MARTABE—hadir secara nyata, bertanggung jawab, dan bangkit bersama secara bermartabat.
Kegiatan ini melibatkan sejumlah dosen, yakni Anto J. Hadi, Arinil Hidayah, Nurul Hidayah Nasution, Ahmad Safii Hasibuan, Lucy Widasari, dan Hapiz Arlanda Sani, bersama mahasiswa yang turun langsung ke lokasi terdampak bencana. Kehadiran mereka menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, kepedulian kemanusiaan, dan kearifan lokal masyarakat setempat.
Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Aufa Royhan, Arinil Hidayah, SKM., M.Kes., menegaskan bahwa bantuan kesehatan dalam situasi bencana tidak dapat dipahami sebatas tindakan medis semata, melainkan bagian dari upaya menjaga martabat dan keberlangsungan hidup masyarakat terdampak.
“Bantuan kesehatan dalam situasi bencana tidak hanya soal pengobatan, tetapi tentang menjaga keberlangsungan hidup dan martabat masyarakat terdampak. Layanan yang cepat, humanis, dan berkelanjutan menjadi kunci agar proses pemulihan dapat berjalan lebih baik,” ujar Arinil Hidayah saat berada di lapangan.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan langsung tenaga akademik dan mahasiswa merupakan bentuk tanggung jawab moral perguruan tinggi terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Hal senada disampaikan Dr. Anto J. Hadi, SKM., M.Kes. Menurutnya, pengabdian masyarakat harus melampaui respons darurat dan diarahkan pada upaya pemulihan jangka panjang yang memperkuat ketahanan sosial warga.
“Pengabdian ini bukan hanya soal bantuan, tetapi tentang MARTABE—bagaimana kita hadir, bertanggung jawab, dan membangun kembali ketahanan masyarakat secara bersama-sama,” ujarnya di sela kegiatan pendampingan di lokasi pengungsian.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam proses pemulihan pascabencana, terutama melalui kerja kolaboratif dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan warga setempat. Kehadiran kampus, kata dia, harus diwujudkan melalui pendampingan yang berkelanjutan dan berpihak pada kebutuhan riil masyarakat.
“Kami ingin kampus benar-benar turun ke lapangan agar pemulihan berjalan secara bermartabat dan berkelanjutan,” tambahnya.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa nilai MARTABE tidak berhenti sebagai konsep budaya, melainkan hadir sebagai praktik nyata yang selaras dengan visi Universitas Aufa Royhan sebagai institusi yang unggul, kompetitif, dan berkarakter MARTABE.
Melalui keterlibatan langsung sivitas akademika di tengah masyarakat terdampak bencana, kampus tidak hanya mentransformasikan ilmu pengetahuan menjadi aksi kemanusiaan, tetapi juga menanamkan nilai empati, tanggung jawab sosial, serta kepemimpinan beretika kepada mahasiswa.
Dalam bingkai visi tersebut, MARTABE dimaknai sebagai fondasi pembentukan insan akademik yang berdaya saing secara intelektual sekaligus kokoh secara moral. Solidaritas yang terbangun di lapangan turut memperkuat kepercayaan antara kampus dan masyarakat, sementara praktik gotong royong menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk tumbuh sebagai agen perubahan.
Pengabdian ini menegaskan bahwa MARTABE bukan sekadar identitas kultural, melainkan kompas moral dalam setiap langkah pengabdian kepada masyarakat.