Solidaritas Berbasis Budaya: MARTABE Menuntun Pemulihan Tapanuli Selatan

Hajiumrahnews.com — Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Tapanuli Selatan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Namun, di balik reruntuhan dan keterbatasan, nilai kearifan lokal MARTABE—yang menjunjung martabat, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial—bangkit sebagai kekuatan yang menyatukan langkah pemulihan.

Dari kampus yang bertransformasi menjadi posko siaga bencana, layanan kesehatan, hingga dapur umum, MARTABE tercermin dalam kesediaan untuk hadir, melayani, dan berbagi tanpa sekat. Budaya ini menempatkan kemanusiaan sebagai pusat tindakan: yang kuat menopang yang lemah, yang selamat menjaga yang terdampak, dan yang memiliki sumber daya mengulurkan tangan bagi sesama.

Gizi sebagai Garis Pertahanan Pertama

Ketua Martabe Research Centre (MRC) Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan, Dr. dr. Lucy Widasari, M.Si, menegaskan pentingnya pemenuhan gizi dalam situasi darurat.

Gizi adalah garis pertahanan pertama dalam bencana. Tanpa asupan yang tepat, risiko penyakit meningkat, daya tahan tubuh menurun, dan proses pemulihan masyarakat akan berjalan jauh lebih lambat—terutama bagi balita, ibu hamil, dan lansia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut tercermin dalam langkah konkret di lapangan. Di titik-titik pengungsian, dapur umum berbasis pangan lokal diaktifkan dengan menu cepat bergizi dari bahan yang akrab dan mudah diterima masyarakat, seperti ubi, jagung, dan telur. Bantuan pangan dan paket sembako juga disalurkan dengan prioritas bagi kelompok rentan guna memastikan perlindungan gizi tetap terjaga.

Empati dan Gotong Royong yang Berkesinambungan

Di tenda-tenda pengungsian, ruang layanan psikososial, hingga titik distribusi bantuan, MARTABE menemukan wujudnya dalam empati yang tulus dan gotong royong yang berkelanjutan. Krisis tidak memadamkan kepedulian, justru menyalakan kembali nilai kebersamaan yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Bersamaan dengan itu, tim lapangan menyalurkan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari hygiene kits, alat kebersihan, tenda pengungsi, peralatan masak, hingga sarana air bersih seperti tandon, ember, genset, dan pompa air. Di sektor kesehatan, skrining rutin dan layanan pengobatan dilakukan untuk mencegah penyakit pascabanjir, termasuk diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kampus Hadir dengan Pendampingan Berkelanjutan

Ketua Yayasan Universitas Aufa Royhan, Dr. Henniyati Harahap, SKM, M.Kes, yang turut terjun langsung ke lokasi bencana, menegaskan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti pada pengiriman bantuan.

Dalam situasi bencana, yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya logistik, tetapi kehadiran, kepedulian, dan pendampingan yang berkelanjutan. Kami ingin memastikan para penyintas merasa tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit ini,” katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan langsung pimpinan dan sivitas akademika merupakan wujud komitmen kemanusiaan sekaligus tanggung jawab moral institusi pendidikan untuk hadir di saat masyarakat paling membutuhkan.

MARTABE sebagai Kompas Pemulihan

Sinergi lintas elemen—akademisi, mahasiswa, relawan, dan masyarakat—menegaskan bahwa di tengah keterbatasan akibat bencana, solidaritas justru tumbuh semakin kokoh. Dalam bingkai budaya MARTABE, harapan dipulihkan, rasa percaya dibangun kembali, dan kekuatan untuk bangkit bersama lahir dari kepedulian yang hidup.

Rektor Universitas Aufa Royhan, Anto J. Hadi menegaskan bahwa bencana tidak boleh memutus harapan. “Di saat krisis seperti ini, perguruan tinggi harus berdiri di garis depan kemanusiaan. MARTABE mengajarkan kami untuk tidak hanya hadir membawa ilmu, tetapi juga hati bersama masyarakat, sampai mereka benar-benar bangkit,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa di Tapanuli Selatan, MARTABE bukan sekadar slogan budaya, melainkan kompas moral yang menuntun langkah pemulihan dari kampus, ke kampung, menuju masa depan yang lebih kuat dan berdaya.