
Hajiumrahnews.com — Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa orientasi utama petugas haji adalah melayani jamaah secara profesional, bukan menjadikan tugas tersebut sebagai jalan pintas untuk menunaikan ibadah haji dengan fasilitas negara.
“Petugas haji itu orientasi utamanya adalah pelayanan jamaah, bukan nebeng naik haji,” ujar Dahnil usai menutup kegiatan Training of Trainers (ToT) Fasilitator Diklat Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (8/1/2026).
Dahnil menjelaskan, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) telah menyiapkan trainer dan fasilitator untuk melatih calon petugas haji dalam Diklat PPIH yang akan berlangsung pada 10–30 Januari 2026. Pelatihan ini difokuskan untuk meluruskan niat dan memperkuat mental pelayanan sebelum masuk ke aspek teknis penyelenggaraan haji.
Wamenhaj mengakui masih terdapat calon petugas yang belum pernah menunaikan ibadah haji. Namun, menurutnya, keinginan berhaji tidak boleh menjadi motivasi utama dalam menjalankan tugas negara tersebut.
“Keinginan berhaji itu manusiawi, tetapi tidak boleh menjadi niat utama. Yang utama adalah melayani jamaah,” tegas Dahnil.
Selain pelurusan niat, pelatihan juga diarahkan pada penguatan integritas, kedisiplinan, serta kekompakan tim. Ia menilai kerja pelayanan haji di Madinah, Makkah, dan kawasan Masyair merupakan kerja kolektif yang menuntut koordinasi dan soliditas tinggi.
“Kerja-kerja pelayanan di Tanah Haram itu adalah kerja tim. Evaluasi dan kritik saya pada tahun lalu juga menunjukkan bahwa persoalan terbesar sering kali ada di kerja timnya,” ujarnya.
Untuk memperkuat etos kerja dan disiplin, Kemenhaj mengadopsi pendekatan yang terinspirasi dari nilai-nilai militer, khususnya terkait kedisiplinan dan kekompakan.
“Kalau ada yang menyebut ini militerisme, iya. Karena kami ingin mengadaptasi nilai kedisiplinan dan kerja tim yang kuat dari militer,” kata Dahnil.
Dalam Diklat PPIH, ribuan petugas haji akan menjalani simulasi pelayanan di Masyair, Madinah, dan Makkah. Pelatihan baris-berbaris (PBB) serta uji fisik menjadi bagian penting, mengingat sebagian besar tugas petugas haji bersifat fisik dan menuntut ketahanan tinggi.
“Sebanyak 90 persen kerja petugas haji itu kerja fisik. Bahkan saya sering menyebut ini kerjanya 25 jam, karena nyaris tidak berhenti,” ungkapnya.
Dahnil juga mengungkapkan adanya penambahan signifikan jumlah petugas haji dari unsur TNI dan Polri, yang meningkat hingga dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Penambahan ini, kata dia, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Evaluasi setiap tahun menunjukkan kinerja petugas haji dari unsur TNI dan Polri itu bagus, disiplin, dan bertanggung jawab. Karena itu Presiden ingin memberikan apresiasi,” jelasnya.
Selain itu, Kemenhaj menyiapkan skema reward bagi petugas haji berprestasi. Petugas dengan dedikasi tinggi dalam pelayanan jamaah akan diprioritaskan untuk kembali bertugas pada musim haji berikutnya, termasuk petugas Media Center Haji (MCH).
“Kalau dedikasinya terhadap pelayanan itu baik, tentu kami beri kesempatan lebih besar pada tahun-tahun berikutnya,” kata Dahnil.