
Hajiumrahnews.com — Penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 tidak hanya difokuskan pada peningkatan layanan bagi jemaah di Tanah Suci, tetapi juga diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha dalam negeri melalui pemanfaatan produk nasional dalam berbagai kebutuhan haji.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Jaenal Effendi mengatakan berbagai layanan utama bagi jemaah haji Indonesia, mulai dari katering, akomodasi, transportasi, hingga perlengkapan ibadah harus memenuhi standar yang telah ditetapkan.
“Katering untuk sekitar 221 ribu jemaah haji harus memenuhi standar yang ditetapkan, begitu pula hotel yang digunakan, yang jumlahnya sekitar 275 hotel, serta transportasi dan SOP operasional lainnya,” ujar Jaenal, Rabu (4/3/2026).
Menurutnya, pemerintah terus mendorong standarisasi berbagai produk kebutuhan haji yang memiliki potensi dampak ekonomi besar bagi sektor usaha nasional.
Produk tersebut meliputi beras, bumbu masak, makanan siap saji (ready to eat), koper jemaah, hingga perlengkapan ihram yang digunakan oleh jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Kebijakan pemanfaatan produk dalam negeri dalam penyelenggaraan haji sejalan dengan arahan Presiden agar belanja haji dapat memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha nasional.
Jaenal menyebut nilai ekonomi dari penyelenggaraan ibadah haji mencapai sekitar Rp18 triliun setiap tahun. Karena itu, pemerintah berupaya memastikan sebagian besar perputaran ekonomi tersebut tidak sepenuhnya mengalir ke luar negeri.
“Nilai ekonomi haji mencapai sekitar Rp18 triliun. Kita ingin memastikan agar pengeluaran penyelenggaraan ibadah haji tidak seluruhnya mengalir ke luar negeri, tetapi dapat memberikan dampak nyata bagi perekonomian dalam negeri,” kata Jaenal.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi penguatan ekosistem ekonomi haji dan umrah nasional, sekaligus membuka peluang pasar bagi berbagai sektor industri domestik yang terlibat dalam penyediaan kebutuhan jemaah.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan pemerintah adalah mengekspor beras Indonesia ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia selama di Tanah Suci.
Sebanyak 2.280 ton beras disiapkan untuk mendukung layanan katering bagi jemaah haji Indonesia pada musim haji 2026.
Jaenal menyebut pengiriman beras ini menjadi terobosan penting dalam pemanfaatan produk nasional untuk kebutuhan haji.
Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan beras yang dikirim merupakan beras baru hasil panen dari wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah yang diproses secara langsung tanpa melalui stok gudang lama.
“Beras yang dikirim memiliki kualitas super premium, dengan tingkat pecahan di bawah 5 persen dan kadar air di bawah 14 persen. Ini merupakan kualitas tertinggi yang pernah diproduksi Bulog,” ujarnya.
Proses pengolahan beras tersebut dilakukan di empat fasilitas penggilingan, yakni pabrik Wilmar di Serang dan Mojokerto, serta pabrik Bulog di Karawang dan Subang.
Pengiriman beras ke Arab Saudi direncanakan dilakukan melalui tiga jalur pelayaran internasional, yakni Hyundai, Wan Hai, dan Kota Sejati.
Keberangkatan kapal dijadwalkan pada 7 Maret 2026 dengan tujuan pelabuhan Jeddah, Arab Saudi.
Pemerintah berharap langkah ini dapat memperkuat kemandirian ekosistem ekonomi haji sekaligus memastikan kebutuhan konsumsi jemaah Indonesia di Tanah Suci tetap terjamin dengan kualitas terbaik dari produk nasional.