
Hajiumrahnews.com — Pemerintah Iran menunda upacara pemakaman kenegaraan untuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang semula dijadwalkan berlangsung pada Rabu malam di Teheran. Penundaan dilakukan untuk mengantisipasi jumlah pelayat yang diperkirakan mencapai jutaan orang.
Televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa jadwal baru pemakaman akan diumumkan kemudian setelah persiapan logistik dan pengamanan dianggap memadai.
“Upacara perpisahan untuk Imam yang gugur telah ditunda. Tanggal baru akan diumumkan kemudian,” demikian pernyataan yang disampaikan melalui siaran televisi pemerintah Iran, seperti dilansir Channel News Asia.
Sebelumnya, otoritas Iran menyebutkan upacara penghormatan terakhir direncanakan digelar di Teheran sebelum jenazah dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, yang dikenal sebagai salah satu kota suci bagi umat Islam Syiah.
Penundaan pemakaman disebut berkaitan dengan besarnya jumlah pelayat yang diperkirakan hadir dalam prosesi tersebut. Pemerintah Iran menilai persiapan infrastruktur dan pengaturan massa harus dilakukan secara matang.
Ketua Dewan Koordinasi Pembangunan Islam Teheran, Mohsen Mahmoudi, mengatakan bahwa potensi kehadiran jutaan orang menjadi pertimbangan utama.
“Diperkirakan partisipasi jutaan orang dan kebutuhan untuk menyediakan infrastruktur yang memadai bagi kerumunan sebesar itu menjadi alasan utama penundaan,” kata Mahmoudi kepada televisi pemerintah.
Sejarah menunjukkan pemakaman tokoh besar Iran mampu menarik jumlah massa yang sangat besar. Sekitar 10 juta orang tercatat menghadiri pemakaman Ruhollah Khomeini pada 1989.
Ayatollah Ali Khamenei wafat pada usia 86 tahun setelah dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu. Dalam serangan tersebut, sejumlah anggota keluarga Khamenei juga dilaporkan turut menjadi korban.
Khamenei memimpin Iran sejak 1989 setelah menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Iran 1979 yang mengakhiri pemerintahan Shah.
Sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei memegang otoritas tertinggi atas pemerintahan, militer, dan lembaga peradilan Iran sekaligus menjadi pemimpin spiritual negara tersebut.
Ulama senior Iran, Ahmad Khatami, menyatakan proses pemilihan pemimpin tertinggi baru hampir mencapai keputusan.
“Pemimpin Tertinggi akan diidentifikasi pada kesempatan terdekat. Kita hampir mencapai kesimpulan, namun situasi di negara ini adalah situasi perang,” kata Khatami kepada televisi pemerintah seperti dilansir Al Jazeera.
Menurut konstitusi Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Majelis Pakar yang beranggotakan 88 ulama dan dipilih publik setiap delapan tahun. Kandidat yang dapat dipilih harus memiliki pengetahuan mendalam tentang yurisprudensi Islam Syiah serta kemampuan politik dan administrasi yang kuat.
Putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei, disebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk menggantikan ayahnya.
Situasi geopolitik kawasan semakin memanas setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan ancaman terhadap siapa pun yang menjadi penerus kepemimpinan Iran.
“Pemimpin mana pun yang dipilih oleh rezim Iran untuk terus memimpin rencana penghancuran Israel akan menjadi target pembunuhan, terlepas dari namanya atau di mana ia bersembunyi,” kata Katz dalam unggahannya di media sosial X.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyinggung kemungkinan perubahan kepemimpinan Iran setelah wafatnya Khamenei.
Pengamat politik Teluk dari Universitas Qatar, Luciano Zaccara, menilai sistem politik Iran sebenarnya telah memiliki mekanisme untuk menghadapi situasi tersebut.
“Strukturnya tetap ada, jalur kekuasaan dan jalur komando tetap pada tempatnya,” ujar Zaccara.