Kamis, 30 Juli 2026 16 Safar 1448 H 14.18 WIB Makkah 39°C
NEWS

Menkomdigi Bongkar Modus Baru Radikalisasi, Dimulai dari Uluran Bantuan

NJ Oleh Neo Jurnalis 30 Juli 2026 3 menit baca

Hajiumrahnews.com — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap pola baru penyebaran paham radikal di ruang digital. Menurutnya, kelompok ekstrem kini tidak lagi mengandalkan narasi kebencian atau ajakan kekerasan secara langsung, melainkan memulai pendekatan melalui tindakan yang tampak penuh kepedulian.

Modus tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari membangun hubungan personal, memberikan bantuan, hingga menawarkan solusi atas persoalan hidup calon korban. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah paham ekstrem mulai disisipkan secara perlahan.

"Saya harus tekankan bahwa kekerasan tidak dimulai dengan satu kata jahat. Kekerasan dimulai dengan sebuah uluran tangan, bantuan pengobatan, pelunasan utang, pengiriman bantuan yang bersifat personal, lalu disusul janji-janji kesejahteraan. Setelah kepercayaan terbentuk, barulah mereka diarahkan pada paham yang ekstrem," ujar Meutya dalam diskusi buku Atas Nama Surga: Algoritma, Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran di Jakarta Pusat, Rabu (29/7/2026).

Algoritma Perkuat Penyebaran Paham Ekstrem

Meutya menjelaskan perkembangan teknologi digital membuat proses radikalisasi semakin sulit dikenali. Algoritma media sosial dan platform digital cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan kebiasaan pengguna sehingga seseorang dapat terus menerima informasi serupa tanpa memperoleh sudut pandang yang berbeda.

Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menciptakan ruang informasi yang memperkuat keyakinan seseorang, meskipun informasi yang diterima belum tentu benar.

"Ketika narasi bertemu dengan algoritma, lahirlah ilusi bahwa sesuatu yang terus muncul adalah kebenaran. Pada titik itu, fakta mulai kalah oleh emosi dan keyakinan. Inilah tantangan besar yang kita hadapi pada era post truth," katanya.

Perubahan Terjadi Secara Perlahan

Menkomdigi menilai dampak paparan konten radikal tidak berlangsung secara instan. Perubahan sikap korban biasanya terjadi perlahan sehingga sering kali tidak disadari oleh keluarga maupun lingkungan terdekat.

Ia mengatakan hubungan anak dengan orang tua umumnya mulai berubah sedikit demi sedikit sebelum akhirnya komunikasi terputus.

"Anak tidak berubah dalam satu atau dua hari. Sedikit demi sedikit hubungan dengan orang tua mulai renggang. Cerita yang dulu terbuka menjadi semakin sedikit, hingga akhirnya tidak ada lagi komunikasi. Saat itulah kita sering terlambat menyadari bahwa telah terjadi perubahan yang serius," ujarnya.

BNPT Gagalkan Perekrutan 112 Anak

Meutya mengungkapkan ancaman radikalisasi digital telah terbukti nyata. Ia menyebut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada Mei 2026 berhasil menggagalkan upaya perekrutan terhadap 112 anak melalui sebuah platform digital.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan menjadi sasaran kelompok radikal dengan berbagai metode yang semakin sulit dikenali.

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas). Regulasi tersebut ditujukan untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital sekaligus mendorong penyelenggara platform menghadirkan ekosistem internet yang lebih aman.

"Regulasi tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman serta membantu orang tua mengenali berbagai risiko yang dihadapi anak di internet," kata Meutya.

Pada kesempatan itu, Meutya mengajak masyarakat meningkatkan literasi digital agar mampu mengenali berbagai bentuk manipulasi yang dilakukan kelompok radikal melalui media digital.

"Yang paling sulit bukan hanya menghadapi teknologinya, tetapi mengenali kapan sebuah kepedulian ternyata menjadi pintu masuk menuju manipulasi dan radikalisasi," tegasnya.

Tag NEWS
Join WA Channel