Bukan Raja Saudi, Inilah Pemegang Kunci Ka’bah hingga Hari Ini

Hajiumrahnews.com — Ka’bah merupakan bangunan paling suci bagi umat Islam dan menjadi pusat ibadah kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia. Setiap musim haji dan umrah, jutaan jamaah memadati Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf mengelilingi Ka’bah. Di balik kemegahan dan kesuciannya, tersimpan satu amanah penting yang kerap luput dari perhatian: siapa pemegang kunci Ka’bah saat ini.

Fakta yang jarang diketahui, kunci Ka’bah tidak berada di tangan Raja Arab Saudi maupun keluarga kerajaan. Amanah mulia tersebut justru dijaga oleh sebuah keluarga yang telah dipercaya sejak masa Rasulullah SAW dan diwariskan lintas generasi hingga hari ini.

Bani Syaibah, Penjaga Kunci Ka’bah

Pemegang kunci Ka’bah dikenal dengan sebutan Bani Syaibah, sebuah keluarga yang secara turun-temurun diberi kepercayaan untuk membuka dan menutup pintu Ka’bah. Tugas mereka bukan sekadar teknis, melainkan kehormatan besar dalam menjaga kesucian Baitullah.

Selain membuka pintu Ka’bah pada momen-momen tertentu, Bani Syaibah juga bertanggung jawab menjaga ketertiban dan keamanan di sekitar Ka’bah, terutama saat jamaah melaksanakan thawaf dan ibadah lainnya di Masjidil Haram.

Amanah Sejak Fathu Makkah

Sejarah penjagaan kunci Ka’bah bermula dari peristiwa Fathu Makkah pada tahun 630 M atau 20 Ramadan 8 Hijriah. Pada peristiwa bersejarah itu, Rasulullah SAW memasuki Kota Makkah dan membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala yang ada di dalamnya.

Dalam kitab Zadul Ma’ad jilid 4, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menunjuk Utsman bin Thalhah sebagai pemegang kunci Ka’bah. Setelah kunci tersebut diserahkan kepada beliau, Rasulullah SAW kemudian mengembalikannya kepada Utsman dengan pesan tegas.

“Kunci ini adalah amanah yang tidak boleh diambil darimu, kecuali oleh orang yang zalim,” demikian pesan Rasulullah SAW sebagaimana dikutip dalam literatur sejarah Islam.

Pesan tersebut menjadi landasan kuat mengapa kunci Ka’bah tetap berada di tangan keturunan Utsman bin Thalhah hingga saat ini.

Dari Utsman bin Thalhah hingga Bani Syaibah

Setelah Utsman bin Thalhah wafat, amanah penjagaan kunci Ka’bah dilanjutkan oleh saudaranya, Syaibah. Sejak itulah keturunan mereka dikenal sebagai Bani Syaibah dan terus menjalankan tugas mulia tersebut dari generasi ke generasi.

Tradisi ini bertahan tanpa terputus selama lebih dari 14 abad, menjadikannya salah satu amanah terlama dalam sejarah Islam yang dijaga secara konsisten.

Sejarah Awal Penjagaan Ka’bah

Jauh sebelum masa Rasulullah SAW, penjagaan Ka’bah telah melalui perjalanan panjang. Pada abad ke-5 Masehi, tokoh bernama Qushayyi bin Kilab memegang peran sentral dalam sejarah Makkah. Ia menikah dengan Hubayya, putri Hulail Al-Khuza’i, penguasa Hijaz yang saat itu memiliki otoritas atas Ka’bah.

Menjelang wafat, Hulail mewasiatkan tanggung jawab penjagaan Ka’bah. Setelah melalui musyawarah dan penyelesaian damai dengan Bani Khuza’ah, Qushayyi diangkat sebagai pemimpin Makkah. Ia dikenal dengan gelar Mujammi’, karena berhasil menyatukan kabilah-kabilah Arab yang sebelumnya tercerai-berai.

Di masa kepemimpinannya, Qushayyi membangun sistem pengelolaan Makkah, mulai dari penyediaan air dan makanan jamaah, keamanan Ka’bah, hingga pengaturan hukum dan ketentaraan.

Amanah tersebut kemudian diwariskan kepada keturunannya: Abdu Manaf, Hasyim, hingga Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW.

Amanah yang Terjaga hingga Kini

Hingga saat ini, keturunan Bani Syaibah masih dipercaya memegang kunci Ka’bah. Tradisi tersebut menjadi simbol kuat bahwa Islam menjunjung tinggi nilai amanah, keadilan, dan kepercayaan, sebagaimana ditekankan langsung oleh Rasulullah SAW.

Kisah penjagaan kunci Ka’bah bukan sekadar catatan sejarah, melainkan teladan nyata tentang bagaimana amanah harus dijaga tanpa memandang kekuasaan dan kedudukan. Dari masa Rasulullah SAW hingga era modern, Ka’bah tetap dijaga oleh tangan yang sama, sebagai pengingat bahwa kepercayaan adalah fondasi peradaban Islam.