
Hajiumrahnews.com — Tren sedekah digital di Arab Saudi mengalami lonjakan signifikan selama Ramadan 1447 H/2026. Transformasi digital mendorong masyarakat beralih dari metode konvensional ke platform berbasis aplikasi dalam menyalurkan donasi.
Dilansir dari Arab News, sejumlah lembaga amal melaporkan perubahan besar dalam pola filantropi masyarakat. Donasi kini semakin banyak dilakukan melalui ponsel, mencerminkan pergeseran menuju sistem yang lebih praktis dan transparan.
CEO Al-Wedad Charity Association, Dhaifullah bin Ahmed Al-Nuami, menyebutkan bahwa penggunaan aplikasi dan platform digital memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan donasi selama Ramadan.
“Aplikasi dan platform digital telah berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan donasi selama bulan suci Ramadan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kontribusi donasi dari kanal digital kini telah melampaui 50 persen dari total sumbangan, dan diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang.
Pertumbuhan ini sejalan dengan berkembangnya platform amal nasional seperti Ehsan Platform dan Jood Eskan. Sejak diluncurkan pada 2021, Ehsan telah menghimpun dana sekitar 4 miliar dolar AS, menunjukkan tingginya kepercayaan publik terhadap sistem digital.

Digitalisasi tidak hanya meningkatkan jumlah donasi, tetapi juga mengubah pengalaman berbagi bagi para donatur.
“Donasi digital telah membuat jauh lebih mudah bagi para donatur untuk mengakses lembaga, mempelajari program, serta memilih tujuan yang ingin mereka dukung,” kata Al-Nuami.
Kemudahan ini memungkinkan donatur menyalurkan bantuan secara instan, sekaligus memantau dampaknya secara langsung. Bagi penerima manfaat, sistem ini mempercepat distribusi bantuan dan meningkatkan efektivitas program sosial.
Penggunaan teknologi juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan dana sosial.
“Pemberian donasi secara digital telah secara signifikan mengurangi waktu, tenaga, dan sumber daya yang dibutuhkan,” ujarnya.
Selain itu, sistem digital terintegrasi seperti ERP dan manajemen donasi memungkinkan lembaga amal menyajikan data yang lebih akurat dan transparan. Donatur dapat mengetahui alur distribusi dana, sementara lembaga secara rutin menyampaikan laporan dampak program.
Fenomena ini juga didorong oleh partisipasi generasi muda yang semakin aktif dalam kegiatan filantropi berbasis digital.
Al-Nuami menilai bahwa alat digital selaras dengan gaya hidup generasi muda yang mengutamakan kecepatan dan kemudahan.
“Kami melihat adanya perluasan signifikan dalam jumlah donatur, khususnya di kalangan anak muda,” ujarnya.
Salah satu donatur, Reem Al-Sehly, mengaku rutin menggunakan platform digital untuk berdonasi selama Ramadan.
“Kehadiran platform donasi telah membuat berbuat kebaikan menjadi jauh lebih mudah sekaligus memastikan bahwa kegiatan amal dapat dipercaya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kemudahan akses mendorong dirinya untuk berdonasi lebih sering.
“Hanya dengan satu klik saya bisa berdonasi ke berbagai tujuan, dan organisasi yang bertanggung jawab akan menyalurkan donasi tersebut secara adil kepada mereka yang membutuhkan,” ujarnya.
Perkembangan sedekah digital menunjukkan bahwa teknologi mampu memperluas jangkauan kebaikan dan memperkuat solidaritas umat Islam. Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan ibadah personal, tetapi juga transformasi cara berbagi yang lebih inklusif dan berdampak.
Digitalisasi filantropi membuka peluang bagi umat untuk berkontribusi secara lebih luas, cepat, dan transparan dalam membantu sesama, sekaligus memperkuat nilai kepedulian sosial di era modern.