Rabu, 01 Juli 2026 16 Muharam 1448 H 14.39 WIB Makkah 39°C
ISLAM

Kota Kuno Al-Natah di Gurun Arab Ungkap Jejak Peradaban 4.000 Tahun Lalu

NJ Oleh Neo Jurnalis 1 Juli 2026 3 menit baca

Hajiumrahnews.com — Penemuan kota kuno Al-Natah di kawasan Oasis Khaybar, Arab Saudi, menjadi salah satu temuan arkeologi penting yang memperkaya pemahaman tentang sejarah Jazirah Arab. Kota yang diperkirakan telah berusia sekitar 4.000 tahun tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Arab kuno telah mengenal permukiman permanen dengan tata kota yang terorganisasi sejak Zaman Perunggu.

Selama ini, sebagian wilayah Arab kuno sering dikaitkan dengan kehidupan masyarakat nomaden yang berpindah-pindah. Temuan Al-Natah memberikan gambaran berbeda karena memperlihatkan keberadaan komunitas yang telah membangun kota, sistem pertahanan, serta infrastruktur pendukung kehidupan.

Berada di Oasis Khaybar, Kawasan Bersejarah Arab Saudi

Al-Natah ditemukan di Oasis Khaybar, wilayah subur yang berada di Provinsi Madinah, Arab Saudi. Kawasan ini memiliki nilai sejarah panjang karena menjadi salah satu wilayah penting dalam perjalanan sejarah Islam.

Sebelum periode Islam, wilayah Khaybar telah menjadi lokasi permukiman masyarakat kuno. Pada masa Rasulullah SAW, kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu wilayah yang dihuni komunitas Yahudi sebelum peristiwa Khaybar pada tahun 628 M.

Penemuan Al-Natah menunjukkan bahwa jauh sebelum periode tersebut, kawasan Khaybar telah menjadi pusat kehidupan masyarakat dengan struktur sosial yang berkembang.

Kota Berusia Ribuan Tahun dengan Sistem Pertahanan

Berdasarkan penelitian arkeologi, Al-Natah mulai dibangun sekitar 2400 sebelum Masehi dan berkembang hingga sekitar 2000 SM. Aktivitas permukiman diperkirakan berlangsung hingga sekitar 1500 SM, bahkan beberapa indikasi menunjukkan keberlanjutan hingga sekitar 1300 SM.

Penelitian terhadap situs ini dilakukan oleh tim arkeolog yang dipimpin Guillaume Charloux dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS). Hasil kajian tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS One.

Kota ini diketahui memiliki sistem pertahanan berupa benteng batu dengan ketebalan sekitar 3,5 hingga 6 meter. Benteng tersebut diperkirakan memiliki tinggi sekitar lima meter dan dilengkapi menara pengawasan.

Struktur tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Al-Natah telah memiliki kemampuan organisasi dan pembangunan yang cukup maju pada masanya.

Tata Kota Teratur dan Dihuni Ratusan Penduduk

Para peneliti memperkirakan Al-Natah dihuni sekitar 500 orang dengan jumlah bangunan sekitar 50 rumah. Permukiman tersebut memiliki pola pembangunan yang teratur, dilengkapi jalan sempit yang menghubungkan berbagai bagian kota.

Kawasan kota terdiri atas area hunian, ruang aktivitas masyarakat, jalur penghubung, ruang terbuka, hingga kompleks pemakaman.

Temuan tersebut memperlihatkan adanya konsep tata ruang yang menunjukkan kehidupan masyarakat perkotaan, bukan sekadar permukiman sederhana.

Artefak Ungkap Kehidupan Masyarakat Kuno

Keberadaan sumber air menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan Al-Natah berkembang di kawasan oasis. Para arkeolog menemukan sejumlah sumur serta sumber air yang mendukung kehidupan masyarakat.

Selain struktur bangunan, ditemukan berbagai artefak seperti kapak logam, belati, batu akik, kristal, dan benda peninggalan lainnya. Temuan tersebut memberikan gambaran mengenai aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari masyarakat Al-Natah.

Meski demikian, para peneliti belum menemukan bukti sistem tulisan di kota tersebut. Kajian masih terus dilakukan melalui analisis bangunan, keramik, serta artefak untuk memahami lebih jauh kehidupan masyarakat yang pernah menghuni kota kuno tersebut.

Penemuan Al-Natah menjadi bukti bahwa kawasan Jazirah Arab telah memiliki peradaban perkotaan jauh sebelum periode sejarah yang selama ini banyak dikenal. Situs ini juga memperlihatkan kekayaan sejarah Arab Saudi yang terus terungkap melalui penelitian arkeologi modern.

Tag ISLAM
Join WA Channel