Jemaah Haji Ziarahi Sumur Ghars, Jejak Sejarah Sumber Air Favorit Rasulullah
Hajiumrahnews.com — Kota suci Madinah menyimpan banyak jejak sejarah yang dekat dengan kehidupan Rasulullah SAW.
Salah satu situs yang kerap menarik perhatian jemaah haji dan umrah adalah Sumur Ghars. Sumur kuno tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW dan menjadi bagian dari perjalanan sejarah Islam di Madinah.
Catatan sejarah menyebut Sumur Ghars digali oleh Malik bin Nahhat, penduduk asli Madinah sekaligus ayah dari sahabat Nabi, Sa’ad bin Khaitsamah.
Sumur tersebut pada masa itu tidak hanya menjadi sumber air bagi masyarakat sekitar. Sumur Ghars juga memiliki kedudukan istimewa karena kedekatannya dengan Rasulullah SAW.
Sejumlah riwayat menyebut Nabi Muhammad SAW pernah berwudhu dan meminum air dari sumur tersebut.
Wasiat Rasulullah tentang Sumur Ghars
Mutawif atau pembimbing ibadah di Madinah, Ibrohim Fadlannul Haq, menjelaskan kedekatan Rasulullah SAW dengan Sumur Ghars.
Ibrohim menyebut Rasulullah kerap memanfaatkan air sumur tersebut semasa hidupnya. Ia juga menjelaskan adanya wasiat Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib terkait penggunaan air Sumur Ghars setelah beliau wafat.
“Ya Ali, idza mittu faghsiluni bimiyahi min bi’ri, bi’ru Ghars. Wahai Ali, apabila aku meninggal dunia, maka mandikanlah jasadku dengan air dari sumurku. Sumur apa itu? Yaitu Sumur Ghars,” ujar Ibrohim Fadlannul Haq saat menirukan pesan Rasulullah kepada Ali bin Abi Thalib, Minggu (14/6/2026).
Ibrohim menjelaskan, keutamaan Sumur Ghars juga disebut dalam riwayat mengenai mimpi Rasulullah SAW.
Rasulullah disebut pernah bermimpi berada di sebuah sumur yang termasuk bagian dari sumur-sumur surga.
Riwayat tersebut menjadi salah satu dasar banyak jemaah memandang Sumur Ghars sebagai tempat bersejarah yang memiliki nilai spiritual.
Madinah dan Jejak Keberkahan
Madinah memiliki banyak jejak keberkahan yang disebut dalam berbagai riwayat.
Raudhah di Masjid Nabawi, misalnya, dikenal sebagai taman di antara taman-taman surga. Sumur Ghars juga kerap dipahami dalam kerangka sejarah keberkahan Madinah karena kedekatannya dengan Rasulullah SAW.
Kedekatan sejarah tersebut membuat banyak jemaah ingin datang, melihat, dan mengenang perjalanan dakwah Nabi di Madinah.
Bagi sebagian jemaah, kunjungan ke Sumur Ghars menjadi sarana memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Tidak Ada Anjuran Khusus secara Syariat
Ibrohim menegaskan, nilai sejarah Sumur Ghars tidak berarti ada anjuran khusus secara syariat untuk mengunjunginya.
Tuntunan fikih menyebut hanya ada empat tempat di Madinah yang secara syar’i dan memiliki dalil khusus dianjurkan untuk dikunjungi jemaah.
Keempat tempat tersebut dikenal dengan istilah masjidani wa maqbarotan, yakni dua masjid dan dua pekuburan.
Empat tempat itu adalah Masjid Nabawi, Masjid Quba, Makam Baqi, dan Makam Syuhada Uhud.
Penegasan tersebut penting agar jemaah tidak memahami kunjungan ke Sumur Ghars secara berlebihan. Situs ini dapat dikunjungi sebagai bagian dari edukasi sejarah, bukan sebagai ibadah khusus yang memiliki tuntunan tersendiri.
Edukasi Sejarah bagi Jemaah
Kunjungan jemaah Indonesia ke Sumur Ghars tetap berlangsung karena kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW.
Niat yang tepat dalam kunjungan tersebut adalah yusta’nasu biha, yakni menjadikannya sebagai sarana mengambil pelajaran, mengenang sejarah, dan memperkuat kecintaan kepada Nabi.
Jemaah yang datang ke Sumur Ghars biasanya ingin merasakan kedekatan emosional dengan salah satu jejak kehidupan Rasulullah di Madinah.
Kehadiran Sumur Ghars menjadi pengingat bahwa sejarah Islam tidak hanya hidup dalam kitab, tetapi juga tersimpan pada tempat-tempat yang pernah bersentuhan dengan perjalanan dakwah Nabi.
Sumur Ghars akhirnya menjadi ruang edukasi bagi jemaah. Kunjungan ke tempat ini membantu jemaah mengenal sejarah Madinah secara lebih dekat, sekaligus menjaga adab agar tidak melebihkan sesuatu di luar tuntunan syariat.