Tidak Pernah ke Makkah, Tetapi Disebut Meraih Haji Mabrur
Hajiumrahnews.com — Setiap Muslim tentu merindukan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Perjalanan menuju Makkah bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan iman, pengorbanan, kesabaran, dan penghambaan kepada Allah SWT.
Pada musim haji 1447 H/2026 M, dunia menyaksikan transformasi besar dalam penyelenggaraan ibadah haji. Sistem digital seperti Nusuk, kartu identitas jamaah, pengaturan pergerakan berbasis data, layanan transportasi modern, hingga peningkatan kualitas akomodasi menjadi bagian dari wajah baru haji era digital.
Perubahan tersebut patut disyukuri. Teknologi telah membantu jamaah menjalankan ibadah dengan lebih tertib, aman, dan nyaman. Namun, di tengah kemajuan itu, ada satu pertanyaan mendasar yang tidak boleh dilupakan: apakah seluruh kemudahan tersebut benar-benar mengantarkan manusia kepada haji yang mabrur?
Pertanyaan itu penting karena haji mabrur bukan hanya ditentukan oleh sampainya seseorang ke Makkah. Haji mabrur juga tampak dari hati yang ikhlas, amal yang tulus, dan kebaikan yang tersambung kepada sesama manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
Artinya:
“Tidak ada balasan yang pantas bagi haji mabrur kecuali surga.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan betapa agung kedudukan haji mabrur. Namun, kemabruran haji bukan sekadar gelar sosial setelah seseorang pulang dari Tanah Suci. Kemabruran adalah buah dari ibadah yang melahirkan perubahan hidup.
Kisah Ali bin Al-Muwaffaq
Dalam literatur kisah teladan Muslim, terdapat sebuah kisah masyhur tentang Ali bin Al-Muwaffaq, seorang tukang sol sepatu di Damaskus. Kisah ini diriwayatkan melalui cerita Abdullah bin Al-Mubarak.
Dikisahkan, setelah menunaikan ibadah haji, Abdullah bin Al-Mubarak beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit dan saling berbincang.
Salah satu malaikat bertanya, “Berapa banyak orang yang datang menunaikan ibadah haji tahun ini?”
Malaikat lainnya menjawab, “Enam ratus ribu jamaah.”
Lalu malaikat pertama bertanya lagi, “Berapa banyak dari mereka yang hajinya diterima?”
Malaikat kedua menjawab, “Tidak ada satu pun.”
Mendengar jawaban itu, Abdullah bin Al-Mubarak merasa sangat gemetar. Ia membayangkan begitu banyak manusia datang dari tempat jauh, melewati perjalanan berat, mengorbankan harta dan tenaga, tetapi amal mereka tidak diterima.
Namun, percakapan itu belum selesai.
Malaikat tersebut kemudian berkata bahwa ada seseorang yang tidak berangkat haji, tetapi amalnya diterima Allah. Bahkan, karena orang itu, Allah menerima haji para jamaah.
Orang itu adalah Ali bin Al-Muwaffaq, seorang tukang sol sepatu di Damaskus.
Setelah terbangun, Abdullah bin Al-Mubarak mencari Ali bin Al-Muwaffaq. Ia ingin mengetahui amal apa yang membuat seorang tukang sol sepatu yang tidak berangkat ke Makkah disebut memperoleh kemuliaan demikian besar.
Tabungan Haji yang Berubah Menjadi Sedekah
Ali bin Al-Muwaffaq kemudian bercerita bahwa selama puluhan tahun ia menyisihkan sebagian penghasilannya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit uang itu dikumpulkan hingga mencapai 350 dirham, cukup untuk berangkat menunaikan ibadah haji.
Niatnya sudah bulat. Ia ingin memenuhi panggilan Allah ke Baitullah.
Namun, menjelang keberangkatan, istrinya yang sedang hamil mencium aroma makanan lezat dari rumah tetangga. Sang istri meminta Ali mencari makanan tersebut karena sangat menginginkannya.
Ali pun mencari sumber aroma itu. Ternyata aroma makanan berasal dari sebuah gubuk sederhana yang hampir roboh. Di dalamnya tinggal seorang janda bersama enam anaknya.
Ali meminta sedikit makanan tersebut untuk istrinya. Namun, janda itu menolak sambil menangis.
“Makanan ini halal bagi kami, tetapi haram bagi tuan,” kata janda itu.
Ali terkejut. Ia bertanya mengapa makanan yang dimasak itu halal bagi keluarga tersebut, tetapi haram bagi dirinya.
Janda itu menjawab bahwa selama beberapa hari keluarganya tidak memiliki makanan. Mereka kelaparan. Pada hari itu, mereka menemukan bangkai keledai, lalu mengambil sebagian dagingnya untuk dimasak karena keadaan darurat.
Mendengar jawaban itu, hati Ali bin Al-Muwaffaq hancur. Ia melihat langsung penderitaan seorang janda dan anak-anak yatim yang kelaparan.
Ali kemudian mengambil seluruh tabungan hajinya dan menyerahkannya kepada keluarga tersebut. Ia membatalkan keberangkatan hajinya demi menyelamatkan keluarga yang sedang berada dalam kesulitan berat.
Secara lahiriah, Ali tidak sampai ke Makkah. Namun, secara batiniah, amalnya sampai kepada Allah SWT.
Haji Mabrur dan Kebaikan Sosial
Kisah Ali bin Al-Muwaffaq mengajarkan bahwa haji mabrur tidak boleh dipahami secara sempit. Haji bukan hanya tentang perjalanan dari satu negara menuju Tanah Suci. Haji adalah perjalanan nilai.
Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang haji mabrur. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad, beliau menjawab:
إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
Artinya:
“Memberi makan dan menebarkan salam.”
Jawaban Rasulullah ﷺ sangat dalam. Tanda haji mabrur bukan hanya banyaknya thawaf, panjangnya doa, atau lengkapnya dokumentasi perjalanan. Tanda haji mabrur tampak pada kepedulian sosial dan kemampuan menghadirkan kedamaian.
Memberi makan berarti peduli kepada orang lapar. Menebarkan salam berarti menghadirkan rasa aman, damai, dan kasih sayang bagi orang lain.
Ali bin Al-Muwaffaq tidak jadi berangkat haji karena memilih memberi makan keluarga miskin. Justru dari amal itulah ia memperoleh kedudukan yang sangat mulia dalam kisah tersebut.
Haji Era Digital Harus Terkoneksi dengan Kebaikan
Pada haji era digital 1447 H/2026 M, pelayanan jamaah semakin maju. Aplikasi Nusuk, kartu identitas digital, sistem transportasi, manajemen data, hingga layanan berbasis teknologi telah mempermudah banyak hal.
Namun, teknologi hanyalah alat. Tujuan akhirnya tetap sama, yaitu membantu manusia lebih mudah beribadah dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Haji era digital harus menjadi haji yang terkoneksi dengan kebaikan. Artinya, kemajuan teknologi harus tersambung dengan kemajuan akhlak. Kemudahan layanan harus melahirkan rasa syukur. Kenyamanan fasilitas harus melahirkan kepedulian. Keberangkatan ke Tanah Suci harus melahirkan perubahan hidup setelah pulang ke tanah air.
Seorang jamaah yang telah berhaji harus semakin peduli kepada fakir miskin, anak yatim, tetangga, keluarga, dan masyarakat. Ia harus semakin amanah dalam pekerjaan, semakin santun dalam bicara, semakin jujur dalam usaha, dan semakin bermanfaat bagi umat.
Kisah Ali bin Al-Muwaffaq menjadi pengingat bahwa Allah SWT melihat keikhlasan hati. Ada orang yang sampai ke Makkah, tetapi lupa kepada nilai haji. Ada pula orang yang tidak sampai ke Makkah, tetapi amal kebaikannya begitu tinggi di sisi Allah.
Haji Mabrur Dimulai dari Hati yang Peduli
Kisah ini tidak berarti mengecilkan kewajiban haji bagi yang mampu. Haji tetap rukun Islam yang wajib ditunaikan bagi Muslim yang memenuhi syarat kemampuan. Namun, kisah ini menegaskan bahwa kemampuan spiritual tidak kalah penting dari kemampuan materi.
Haji membutuhkan biaya, kesehatan, izin resmi, dan kesiapan perjalanan. Namun, haji mabrur membutuhkan hati yang ikhlas, akhlak yang baik, dan kepedulian kepada sesama.
Kebaikan Ali bin Al-Muwaffaq menunjukkan bahwa amal sosial yang dilakukan dengan tulus dapat memiliki nilai luar biasa di sisi Allah SWT.
Karena itu, jamaah yang telah menyelesaikan haji tahun ini perlu membawa pulang semangat kebaikan dari Tanah Suci. Jangan sampai haji hanya meninggalkan kenangan perjalanan, foto di Masjidil Haram, atau gelar sosial di depan nama.
Haji harus meninggalkan jejak kebaikan.
Haji mabrur adalah haji yang membuat seseorang lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi manusia. Haji mabrur adalah haji yang terkoneksi dengan kebaikan.
Semoga seluruh jamaah haji 1447 H/2026 M memperoleh haji yang mabrur. Semoga mereka pulang membawa cahaya kebaikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat manusia.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
M. Hasan Gaido
Pendiri Gaido Group dan Pendiri HIMPUH