Selasa, 16 Juni 2026 1 Muharam 1448 H 00.58 WIB Makkah --°C
LIFESTYLE

1 Suro dan Tradisi Kuliner Jawa, Lima Sajian Ini Punya Makna Mendalam

NJ Oleh Neo Jurnalis 15 Juni 2026 4 menit baca

Hajiumrahnews.com — Tradisi 1 Suro dalam penanggalan Jawa memiliki makna mendalam bagi masyarakat yang masih melestarikannya.

Momen yang berdekatan dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram ini kerap diisi dengan doa bersama, tirakatan, muhasabah, dan berbagai tradisi budaya yang diwariskan turun-temurun.

Salah satu tradisi yang masih dijaga ialah penyajian makanan khas 1 Suro. Sajian tersebut tidak hanya menjadi hidangan, tetapi juga menyimpan simbol doa, harapan, syukur, dan kebersamaan.

Makanan khas 1 Suro hadir dalam beragam bentuk. Bubur suro, bubur merah putih, kue apem, nasi tumpeng, dan ayam ingkung menjadi beberapa sajian yang paling dikenal masyarakat Jawa.

Tradisi kuliner ini perlu dipahami sebagai ekspresi budaya dan sarana mempererat kebersamaan. Nilai utamanya terletak pada rasa syukur, doa kebaikan, dan semangat memperbaiki diri saat memasuki tahun baru.

1. Bubur Suro

Bubur suro menjadi salah satu makanan khas yang kerap disajikan saat memperingati hari pertama bulan Suro.

Bubur ini biasanya dimasak dengan kuah santan berwarna kuning yang lembut dan gurih. Warna serta cita rasanya sering dimaknai sebagai simbol kemakmuran, kesejahteraan, dan ketenangan.

Sajian bubur suro biasanya dilengkapi lauk seperti ayam suwir, sambal goreng tempe, telur rebus, bawang goreng, daun bawang, kacang goreng, dan kerupuk.

Masyarakat membuat bubur suro untuk dibagikan kepada keluarga, tetangga, atau warga sekitar. Kebiasaan tersebut menjadi wujud syukur sekaligus simbol kebersamaan.

Penyajian bubur suro juga dimaknai sebagai doa agar tahun baru membawa perlindungan, kebaikan, dan keberkahan.

2. Bubur Merah Putih

Bubur merah putih juga sering hadir dalam tradisi 1 Suro di sejumlah daerah Jawa.

Sajian ini tampak sederhana, tetapi menyimpan makna simbolis yang kuat. Warna merah dari gula merah kerap dimaknai sebagai keberanian, semangat, dan perlindungan dari hal buruk.

Warna putih dari santan melambangkan kesucian, ketulusan, dan harapan akan keselamatan.

Perpaduan merah dan putih menggambarkan keseimbangan hidup. Masyarakat memaknainya sebagai keseimbangan antara keberanian dan ketulusan, antara urusan duniawi dan nilai spiritual.

Bubur merah putih juga sering menjadi simbol doa agar kehidupan berjalan selaras, tenteram, dan penuh keberkahan.

3. Kue Apem

Kue apem merupakan jajanan tradisional yang terbuat dari tepung beras, santan, dan gula.

Teksturnya lembut dengan cita rasa manis gurih. Kue ini biasanya dimasak dengan cara dikukus menggunakan cetakan kecil berbentuk bulat.

Tradisi Jawa sering mengaitkan kata “apem” dengan kata Arab “afwan” yang berarti ampunan.

Makna tersebut membuat kue apem kerap hadir dalam acara doa bersama atau tirakatan sebagai simbol permohonan ampun dan harapan memulai tahun baru dengan hati yang lebih bersih.

Kue apem biasanya dibagikan kepada keluarga, tetangga, atau masyarakat sekitar. Kebiasaan berbagi apem menjadi sarana memperkuat silaturahmi, saling memaafkan, dan membangun kebersamaan.

4. Nasi Tumpeng

Nasi tumpeng menjadi salah satu sajian yang sering hadir dalam acara tirakatan malam 1 Suro.

Bentuk kerucut pada tumpeng memiliki makna simbolis dalam budaya Jawa. Bentuk tersebut sering dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Lauk-pauk yang disusun mengelilingi tumpeng melambangkan rezeki, keragaman hidup, serta hubungan sosial antarsesama.

Tumpeng bukan hanya sajian untuk dinikmati bersama. Hidangan ini juga menjadi simbol syukur, doa, dan harapan agar kehidupan pada tahun yang baru dipenuhi kebaikan.

Tradisi makan tumpeng bersama juga mengajarkan nilai gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat.

5. Ayam Ingkung

Ayam ingkung adalah ayam kampung utuh yang dimasak dengan santan dan bumbu rempah.

Penyajiannya berbeda dari olahan ayam biasa karena ayam tidak dipotong-potong. Posisi ayam ingkung biasanya dibuat menunduk atau membungkuk, sehingga kerap dimaknai sebagai simbol kerendahan hati dan ketundukan kepada Tuhan.

Keutuhan ayam melambangkan persatuan, keharmonisan, dan kebersamaan masyarakat.

Ayam ingkung juga sering dianggap sebagai sajian utama dalam tradisi doa bersama. Hidangan ini membawa harapan agar tahun baru yang dijalani dipenuhi keselamatan, keberkahan, dan dijauhkan dari mara bahaya.

Simbol Doa dan Kebersamaan

Lima makanan khas 1 Suro tersebut memperlihatkan kekayaan budaya Jawa dalam memaknai pergantian tahun.

Setiap sajian memiliki pesan yang berhubungan dengan syukur, ampunan, keselamatan, persatuan, dan harapan hidup yang lebih baik.

Tradisi kuliner 1 Suro juga menjadi pengingat bahwa makanan dapat menjadi media budaya untuk menyampaikan doa dan nilai kehidupan.

Masyarakat yang melestarikan tradisi ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga merawat semangat kebersamaan saat memasuki tahun baru.

Tag LIFESTYLE
Join WA Channel