Sabtu, 30 Mei 2026 13 Dzulhijjah 1447 H 00.19 WIB Makkah 32°C
LIFESTYLE

Children of Heaven Versi Indonesia, Kisah Haru Kakak Beradik karena Sepasang Sepatu

NJ Oleh Neo Jurnalis 29 Mei 2026 4 menit baca

Hajiumrahnews.com — Film asal Iran, Children of Heaven, karya sutradara Majid Majidi akhirnya hadir dalam versi Indonesia. Film legendaris yang pernah membuat banyak penonton tersentuh pada era 1990-an itu diremake oleh MD Pictures dengan Hanung Bramantyo sebagai sutradara.

Dalam versi Indonesia, kisah berpusat pada kakak beradik bernama Ali yang diperankan Jared Ali dan Zahra yang diperankan Humaira Jahra. Mereka hidup dalam keluarga sederhana di pinggiran kali Semarang dengan latar waktu tahun 1988.

Kehidupan Ali dan Zahra jauh dari kata mudah. Ayah mereka, Karim, yang diperankan Andri Mashadi, bekerja serabutan dan memiliki banyak utang. Sementara sang ibu, Fatimah, yang diperankan Faradina Mufti, hidup dalam kondisi sakit-sakitan sambil merawat anak bungsu yang masih bayi.

Sepasang Sepatu yang Mengubah Segalanya

Konflik utama bermula ketika Ali tidak sengaja menghilangkan sepatu sekolah milik Zahra. Padahal, sepatu itu menjadi satu-satunya alas kaki yang dimiliki Zahra untuk pergi ke sekolah.

Ali dan Zahra tidak berani meminta sepatu baru kepada ayah mereka karena memahami kondisi ekonomi keluarga yang sedang sulit. Dua bersaudara itu akhirnya memilih jalan sendiri: bergantian memakai sepatu milik Ali.

Setiap hari, Zahra harus berlari setelah pulang sekolah agar sepatu tersebut segera dapat dipakai Ali. Ali pun harus berlari sekencang mungkin agar tidak terlambat masuk kelas dan mendapat hukuman.

Kesederhanaan konflik inilah yang membuat cerita terasa dekat. Sepasang sepatu menjadi simbol kasih sayang, pengorbanan, rasa tanggung jawab, dan mimpi kecil anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan.

Harapan dari Lomba Lari

Harapan baru muncul ketika Ali mengetahui ada lomba lari maraton dengan hadiah sepatu baru. Tanpa ragu, ia mendaftar. Bukan demi kemenangan pribadi, melainkan demi menghadiahkan sepatu untuk Zahra.

Adegan lomba lari menjadi salah satu bagian paling emosional dalam film ini. Ali tidak sekadar berlari untuk menang. Ia berlari membawa rasa bersalah, cinta kepada adiknya, dan harapan sederhana agar Zahra bisa kembali memakai sepatu sendiri ke sekolah.

Setia pada Ruh Film Asli

Kehadiran Children of Heaven versi Indonesia sempat menimbulkan dua perasaan sekaligus: senang dan waswas. Senang karena penonton Indonesia dapat bernostalgia dengan salah satu film keluarga paling menyentuh. Waswas karena remake film ikonis sering kali berisiko kehilangan ruh cerita aslinya.

Kekhawatiran itu tidak sepenuhnya terbukti. Versi Hanung Bramantyo tetap menjaga premis utama film aslinya. Kisah Ali dan Zahra masih mampu membawa penonton masuk ke dalam dunia anak-anak yang polos, penuh keterbatasan, tetapi tetap memiliki harapan.

Nuansa kehidupan keluarga miskin digambarkan cukup pas. Film ini tidak terlalu meromantisasi kemiskinan, tetapi tetap membuat penonton merasakan tekanan ekonomi yang dialami keluarga Ali dan Zahra.

Latar Semarang tahun 1988 juga memberi warna lokal yang kuat. Salah satu adegan paling berkesan muncul ketika Ali dan Zahra mencuci sepatu di pinggir sungai yang belum terlalu tercemar. Momen tersebut terasa seperti membawa penonton kembali ke suasana Indonesia masa lalu.

Sentuhan Komedi Membuat Cerita Lebih Ringan

Meski mengadaptasi cerita yang sangat emosional, versi Indonesia tidak sepenuhnya dibuat kelam. Hanung memberi beberapa penyesuaian agar film terasa lebih dekat dengan karakter penonton Indonesia.

Sentuhan komedi hadir melalui kemunculan sejumlah komika seperti Muhadkly Acho, Oki Rengga, dan Dodit Mulyanto. Kehadiran mereka membuat suasana film lebih ringan tanpa menghilangkan sisi haru yang menjadi kekuatan utama cerita.

Children of Heaven versi Indonesia tidak sesedih film aslinya, tetapi justru memiliki ritme yang lebih berwarna. Penonton tetap diajak menangis, tetapi sesekali diberi ruang untuk tertawa.

Visual Lebih Megah Berkat Teknologi Modern

Film ini juga diuntungkan oleh perkembangan teknologi sinema modern. Adegan lomba lari yang dalam film aslinya tampil sederhana kini dibuat lebih dramatis dan megah.

Penggunaan drone dan sudut pengambilan gambar yang lebih dinamis membuat adegan perlombaan terasa lebih hidup. Ketegangan, kelelahan, dan emosi Ali saat berlari dapat tersampaikan dengan lebih kuat secara visual.

Meski demikian, beberapa detail latar era 1980-an masih terasa kurang presisi. Bagi penonton yang jeli, terdapat sejumlah elemen yang tampak terlalu modern untuk periode tersebut. Detail kecil ini mungkin dapat sedikit mengganggu imajinasi penonton tentang Indonesia era 1988.

Cerita tentang Mimpi dan Pengorbanan

Secara keseluruhan, Children of Heaven versi Indonesia tidak mengkhianati film aslinya. Hanung Bramantyo berusaha tetap setia pada inti cerita, sembari memberi sentuhan lokal yang dekat dengan masyarakat Indonesia.

Film ini mengingatkan bahwa kisah besar tidak selalu harus berangkat dari konflik yang rumit. Kadang, cerita paling menyentuh justru lahir dari hal paling sederhana: sepasang sepatu, dua anak kecil, dan cinta keluarga.

Children of Heaven versi Indonesia membawa pesan tentang mimpi, kerja keras, tanggung jawab, dan pengorbanan. Semua disampaikan melalui cerita yang hangat, haru, dan sesekali mengundang tawa.

Film ini cocok menjadi tontonan keluarga karena mampu menghadirkan refleksi sederhana tentang arti syukur, kepedulian, dan kasih sayang antarsaudara.

Tag LIFESTYLE
Join WA Channel