Bosan Olahan Daging Biasa? Ini 7 Kuliner Idul Adha dari Berbagai Negara
Hajiumrahnews.com — Perayaan Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban dan tradisi berbagi daging kepada keluarga, tetangga, serta masyarakat yang membutuhkan. Setiap negara memiliki cara khas dalam mengolah daging kurban sesuai tradisi, bumbu, dan budaya kuliner masing-masing.
Bagi masyarakat Indonesia, olahan seperti sate, gulai, rendang, tongseng, dan semur menjadi menu yang sering hadir saat Idul Adha. Namun, sejumlah negara lain juga memiliki hidangan daging khas yang tidak kalah menggugah selera.
Berikut tujuh kuliner daging khas Idul Adha dari berbagai negara yang bisa menjadi inspirasi menu kurban.
1. Kabsa, Arab Saudi
Kabsa menjadi salah satu hidangan populer di Arab Saudi dan kawasan Timur Tengah. Menu ini berupa nasi berempah yang dimasak bersama daging dalam satu panci menggunakan kaldu yang kaya rasa.
Rempah seperti jinten, kayu manis, kapulaga, cengkeh, dan lada memberikan aroma khas pada Kabsa. Hidangan ini biasanya disajikan dalam porsi besar untuk disantap bersama keluarga.
Selain Kabsa, masyarakat Arab Saudi juga mengenal Mandi. Hidangan ini dimasak menggunakan teknik tradisional dalam oven tanah sehingga menghasilkan daging yang empuk, beraroma asap, dan tetap berair.
2. Shaya, Sudan
Shaya merupakan olahan daging domba khas Sudan yang biasa disajikan saat momen besar, termasuk Idul Adha. Daging dimarinasi terlebih dahulu menggunakan campuran bawang, cuka, tomat, cabai, dan rempah.
Proses marinasi membuat bumbu lebih meresap ke dalam daging. Setelah itu, daging dipanggang hingga matang dan disajikan bersama salad segar, kacang fava, atau falafel.
Perpaduan rasa gurih, segar, dan sedikit pedas membuat Shaya menjadi hidangan yang cocok disantap bersama keluarga.
3. Kavurma, Turki

Kavurma menjadi salah satu hidangan khas Turki yang sering hadir saat Idul Adha. Menu ini dibuat dari potongan kecil daging yang dimasak menggunakan lemak alami dari daging itu sendiri.
Bumbu yang digunakan cukup sederhana, seperti garam, merica, jinten, dan paprika. Kesederhanaan bumbu justru membuat cita rasa asli daging lebih terasa.
Kavurma biasanya disantap saat sarapan atau makan siang setelah pelaksanaan kurban. Hidangan ini mencerminkan tradisi Turki yang mengedepankan kehangatan keluarga dalam perayaan Idul Adha.
4. Qaynatma Shorva, Uzbekistan

Qaynatma Shorva adalah sup daging khas Uzbekistan yang dimasak bersama sayuran seperti wortel, kentang, paprika, dan bawang. Kuahnya hangat, ringan, tetapi tetap kaya rasa.
Menu ini cocok dikonsumsi saat cuaca dingin atau ketika tubuh membutuhkan makanan bernutrisi. Daging yang dimasak perlahan membuat kuah terasa gurih alami.
Masyarakat Uzbekistan juga mengenal Hasip, olahan berbahan usus yang dimasak dengan rempah. Tradisi ini menunjukkan semangat memanfaatkan bagian hewan kurban secara maksimal.
5. Lamb Thareed, Qatar
Lamb Thareed merupakan hidangan khas Qatar yang sering disajikan dalam perayaan besar. Menu ini berupa sup daging kambing atau domba yang disajikan bersama roti pipih tanpa ragi.
Roti tersebut diletakkan di dasar piring, kemudian disiram kuah daging panas hingga menyerap rasa rempah. Hasilnya, tekstur roti menjadi lembut dan kaya rasa.
Bumbu seperti ketumbar, kari, cabai, bawang, dan tomat membuat Lamb Thareed memiliki rasa yang kompleks. Hidangan ini kerap menjadi menu utama keluarga saat Idul Adha.
6. Dzigerica, Bosnia
Dzigerica merupakan tumis hati khas Bosnia yang dimasak dengan banyak bawang dan mentega. Rasanya gurih, aromanya kuat, dan biasanya disantap bersama roti tradisional.
Selain Dzigerica, masyarakat Bosnia juga memiliki hidangan bernama Pecenje, yaitu daging panggang sederhana yang dibumbui garam dan bawang putih.
Kedua hidangan tersebut menunjukkan karakter kuliner Balkan yang sederhana, kuat, dan mengutamakan rasa alami daging.
7. Pastilla, Maroko

Pastilla menjadi salah satu kuliner khas Maroko yang unik karena memadukan rasa gurih dan manis dalam satu sajian. Hidangan ini berbentuk pai berlapis dengan isian daging, kacang almond, telur, dan rempah.
Adonan tipis digunakan untuk membungkus isian, kemudian dipanggang hingga renyah. Setelah matang, Pastilla biasanya diberi taburan gula bubuk dan kayu manis.
Dalam beberapa variasi, hidangan ini juga diberi sentuhan kelopak mawar untuk memperkuat aroma dan tampilan. Pastilla menjadi bukti kekayaan kuliner Maroko yang memadukan rasa, tekstur, dan tradisi.
Idul Adha dan Tradisi Berbagi
Beragam kuliner daging khas Idul Adha dari berbagai negara menunjukkan betapa luasnya tradisi umat Islam dalam merayakan hari raya kurban.
Setiap hidangan memiliki cita rasa berbeda, tetapi semuanya berakar pada semangat yang sama, yakni syukur, pengorbanan, kebersamaan, dan berbagi kepada sesama.
Inspirasi menu dari berbagai negara ini dapat menjadi pilihan bagi keluarga yang ingin mencoba olahan daging kurban dengan cita rasa baru tanpa meninggalkan makna utama Idul Adha.