Senin, 22 Juni 2026 7 Muharam 1448 H 01.09 WIB Makkah 35°C
NEWS

Munas-Konbes NU di Ploso Bahas Lokasi Muktamar ke-35

NJ Oleh Neo Jurnalis 21 Juni 2026 4 menit baca

Hajiumrahnews.com — Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, tidak hanya menjadi forum konsolidasi organisasi.

Forum tersebut juga menjadi titik awal penentuan arah kepemimpinan NU melalui keputusan lokasi Muktamar ke-35. Muktamar merupakan forum tertinggi organisasi yang akan memilih Rais Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU periode mendatang.

Keputusan lokasi Muktamar memiliki makna strategis bagi NU. Pemilihan lokasi tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis penyelenggaraan, tetapi juga menjadi simbol kesinambungan sejarah, tradisi pesantren, dan proses regenerasi kepemimpinan ulama.

Ketua Steering Committee (SC) Munas-Konbes NU, KH Ahmad Said Asrori, mengatakan lokasi Muktamar ke-35 akan diputuskan dalam forum Munas-Konbes NU di Ploso.

“Insya Allah di Munas Konbes ini (Muktamar) itu akan diputuskan,” kata KH Ahmad Said Asrori di Ploso, Kediri, Jawa Timur, dilansir dari NU Online, Minggu (21/6/2026).

Muktamar NU tidak hanya menjadi forum pemilihan kepemimpinan baru. Forum tersebut juga menjadi ruang penetapan arah kebijakan NU dalam merespons tantangan umat, pendidikan pesantren, dakwah, dan kehidupan kebangsaan.

Pesantren Jadi Poros

KH Ahmad Said Asrori menjelaskan pemilihan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso sebagai lokasi Munas dan Konbes merupakan penegasan kembali identitas historis Nahdlatul Ulama yang lahir dari rahim pesantren.

“Kenapa Munas Konbes di Pondok Pesantren Ploso? Ya karena NU ini lahir dari pondok pesantren. NU dan pesantren itu sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Bagaikan satu mata uang. NU tidak bisa meninggalkan pesantren, pesantren tidak bisa meninggalkan NU,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan forum strategis organisasi sengaja ditempatkan di lingkungan pesantren agar setiap keputusan besar tetap berakar pada tradisi keilmuan Islam, nilai-nilai keulamaan, dan pendidikan kader.

NU menempatkan pesantren sebagai fondasi gerakan keagamaan, sosial, dan kebangsaan. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat produksi kepemimpinan sosial-keagamaan yang terus berperan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

KH Ahmad Said Asrori juga mengutip pandangan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengenai eratnya hubungan NU dan pesantren.

“Kita sepakat Munas Konbes di pondok pesantren Ploso ini. Ponpes ini punya sejarah panjang menorehkan alumni di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.

Jejak Para Muassis

Rangkaian Munas dan Konbes NU tidak berhenti di Kediri. Penutupan akan berlangsung di Bangkalan, Madura, yang dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.

KH Ahmad Said Asrori menjelaskan keputusan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap peran besar Syaikhona Muhammad Khalil bin Abdul Latif Al-Bangkalani.

Syaikhona Khalil Bangkalan memiliki posisi penting dalam sejarah NU karena memberikan isyarat kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari untuk mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama.

“Kenapa di Bangkalan? Karena ada faktor sejarah. Mengingatkan kembali kepada kita dan anak-anak muda agar tidak terputus sejarahnya,” ujar KH Ahmad Said Asrori.

PBNU juga ingin menghadirkan dimensi spiritual melalui rangkaian ziarah, istigasah, dan mujahadah bersama.

“Kita ingin di sana nanti istighasah, mujahadah, memohon langsung melalui tawasul kepada para ulama, para muassis NU ini,” katanya.

Pilihan tersebut menunjukkan proses pengambilan keputusan organisasi tidak dilepaskan dari upaya merawat mata rantai keilmuan, sejarah perjuangan ulama, dan spiritualitas warga NU.

Enam Komisi Bahas Agenda Organisasi

Ketua Organizing Committee (OC) Munas dan Konbes NU 2026, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menjelaskan rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan pada Sabtu malam, kemudian dilanjutkan sidang pleno pertama.

Gus Ipul mengatakan terdapat enam komisi yang membahas berbagai agenda strategis organisasi sebelum pleno terakhir pada Senin (22/6/2026).

Peserta dijadwalkan bergerak menuju Surabaya setelah melaksanakan ziarah ke makam para muassis NU di Jombang.

“Para peserta akan ziarah ke muassis. Di makam muassis di Jombang. Setelah itu nanti bermalam di Surabaya, paginya menuju ke Bangkalan, ziarah ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan,” ujar Gus Ipul.

Rangkaian tersebut memperlihatkan pembahasan organisasi dipadukan dengan penguatan nilai historis dan spiritual sebagai bagian dari karakter khas Nahdlatul Ulama.

Penutupan di Bangkalan

Penutupan Munas dan Konbes NU dijadwalkan berlangsung di Institut Agama Islam Syaikhona Kholil Bangkalan.

PBNU juga mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri sekaligus menutup rangkaian kegiatan Munas dan Konbes NU 2026.

“PBNU secara resmi mengundang Bapak Presiden Prabowo untuk hadir dan sekaligus menutup rangkaian Munas dan Konbes,” ujar Gus Ipul.

Gus Ipul menambahkan prosesi penutupan akan berlangsung pada Selasa, 23 Juni 2026.

“Prosesinya mulai pagi, diawali dengan ziarah ke makam Syaikhona Khalil Bangkalan,” katanya.

Munas dan Konbes NU 2026 menjadi forum penyusunan agenda organisasi menjelang Muktamar ke-35. Forum tersebut juga memperlihatkan bagaimana NU membangun kesinambungan antara kepemimpinan, tradisi pesantren, sejarah para pendiri, dan spiritualitas.

Keputusan yang lahir dari Munas-Konbes NU tidak hanya bersifat administratif. Keputusan tersebut menjadi pijakan penting bagi regenerasi kepemimpinan dan penguatan peran NU dalam kehidupan keislaman, kebangsaan, dan kemasyarakatan Indonesia.

Tag NEWS
Join WA Channel