Yaumul Khulaif, Tradisi Warga Makkah Hidupkan Masjidil Haram di Musim Haji
Hajiumrahnews.com — Saat puncak ibadah haji dimulai, jutaan jamaah perlahan meninggalkan Kota Makkah menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Suasana di Masjidil Haram pun tampak lebih lengang dibanding hari-hari biasanya.
Meski demikian, Ka’bah tidak pernah benar-benar sepi dari ibadah. Di tengah perpindahan jutaan jamaah menuju Armuzna, masyarakat Makkah memiliki sebuah tradisi turun-temurun yang dikenal dengan Yaumul Khulaif atau Yawm Al-Kholeef.
Tradisi tersebut dilakukan khususnya oleh warga lokal Makkah, terutama para wanita, untuk tetap memakmurkan Masjidil Haram ketika sebagian besar jamaah haji sedang menjalani wukuf di Arafah dan mabit di Mina.
Dalam tradisi itu, para wanita Makkah hadir bersama keluarga mereka untuk melaksanakan shalat, tawaf, membaca Al-Qur’an, berdzikir, serta memperbanyak doa di sekitar Ka’bah. Kehadiran mereka membuat Masjidil Haram tetap hidup dengan ibadah sepanjang musim haji berlangsung.
Istilah Khulaif sendiri berasal dari kata yang bermakna “pengganti” atau “mengisi kekosongan”. Tradisi ini mencerminkan keyakinan masyarakat Makkah bahwa Masjidil Haram tidak boleh kosong dari dzikir dan ibadah, terlebih pada hari-hari paling mulia dalam kalender Islam.
Tradisi Yaumul Khulaif telah dikenal sejak lama dalam budaya masyarakat Hijaz. Di masa lalu, ketika para pria sibuk membantu pelayanan jamaah haji dan aktivitas operasional musim haji, para wanita mengambil peran untuk menjaga suasana spiritual di Masjidil Haram tetap hidup.
Sejumlah laporan budaya dan dokumentasi sejarah lokal menyebutkan bahwa momentum Hari Arafah justru menghadirkan suasana ibadah yang berbeda di Masjidil Haram. Area thawaf menjadi lebih lapang, suasana lebih tenang, dan kesempatan beribadah di dekat Ka’bah terasa lebih khusyuk.
Banyak warga Makkah memanfaatkan momen tersebut untuk memperbanyak amal ibadah, terutama puasa Arafah, doa, istighfar, dan tilawah Al-Qur’an. Tradisi ini juga menjadi simbol keterlibatan masyarakat Makkah dalam melayani tamu-tamu Allah selama musim haji.
Selain menjaga suasana ibadah, masyarakat lokal sejak dahulu dikenal aktif membantu kebutuhan jamaah, mulai dari menyediakan makanan, air minum, hingga membantu jamaah lansia dan jamaah yang membutuhkan pertolongan.
Pada musim haji 1447 H/2026 M ini, jutaan jamaah dari berbagai negara diketahui mulai bergerak menuju Mina pada 8 Dzulhijjah untuk menjalani Tarwiyah sebelum melaksanakan wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah.
Di tengah perpindahan besar tersebut, tradisi Yaumul Khulaif kembali menjadi potret indah bagaimana Masjidil Haram tetap dipenuhi doa, dzikir, dan ibadah tanpa henti. Tradisi yang diwariskan lintas generasi ini menjadi bukti bahwa Baitullah selalu hidup dengan lantunan ibadah, bahkan ketika jutaan jamaah berada di Armuzna.